Wow, Lukisan Karya Alumni Gontor Ini Banyak di Pajang di Istana Negara

Sponsored Ad

Sponsored Ad
MALANG - Batu punya pelukis kondang. Namanya Mifta A. Hadi. Selain menjadi langganan presiden RI, pelukis asal Pesanggrahan, Kecamatan Batu itu, juga melayani pesanan lima pendiri Association of Southeast Asian Nations(ASEAN).

Sosok pria lanjut usia (lansia) tampak serius memandangi lukisan yang terpampang di dinding studionya, Jalan Panglima Sudirman, kemarin siang (6/1). Lukisan Alun-Alun Batu bernuansa tempo dulu itu milik Mifta A. Hadi, pelukis asal Kota Batu yang karyanya dipajang di istana negara.

”Rencanannya, akan saya hadiahkan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Batu,” ujar Mifta sambil sesekali mengoleskan kuasnya ke lukisan berukuran 3×2 meter ini.

Sekitar 60 tahun menekuni dunia seni lukis, banyak karya ditorehkan untuk bangsa Indonesia. Mulai dari melukis pesanan presiden Soekarno, Soeharto, hingga melukis lima pendiri ASEAN, 1977 silam. Kelima pendiri ASEAN memesan lukisan Mifta.

Di antaranya delegasi Indonesia Adam Malik, Rajaratnam dari Singapura, Narciso Ramos dari Filipina, Thanat Khoman dari Thailand, serta Tun Abdul Razak dari Malaysia. Lukisan para pendiri ASEAN tersebut dikirim ke Adam Malik, lalu dipajang di kantor ASEAN, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan.

”Untuk satu tokoh, lukisan saya dihargai sekitar Rp 5 juta,” kata pelukis 83 tahun ini.

Tahun 1980 silam, uang Rp 5 juta terbilang besar. Tapi, bukan besarnya harga lukisan yang membuat Mifta spesial, melainkan menjadi langganan presiden dan tokoh sekaliber menteri di lima negara.

Tentu, prestasi itu tidak diraih begitu saja. Sebuah proses panjang membuat karyanya dipercaya pejabat negara.”Kisahnya panjang hingga saya bertemu dengan Pak Adam Malik,” kata pelukis beraliran sketsa dan naturalis ini.

Sebelum sukses menjadi langganan presiden, Mifta kecil hanya pelukis sketsa. Semasa nyantri di Pondok Pesantren (Ponpes) Gontor, Ponorogo, waktu senggangnya dimanfaatkan untuk melukis.

Tahun 1960, Mifta pulang ke Kota Batu, lalu membuka Galeri Mikarama di Jalan Gajah Mada. Karyanya memenuhi dinding galerinya. Dua tahun kemudian, sepak terjangnya sebagai pelukis didengar jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dari sinilah, dia sering kebanjiran order. Hingga pada 1962, dia mendapat pesanan melukis diorama (suasana) TNI–AL di Surabaya. Karyanya dipajang di pameran sejarah TNI-AL.

Petinggi TNI di Jakarta yang membutuhkan lukisan, juga pesan ke Mifta. Kepiawaiannya melukis lalu dikenal pejabat negara, termasuk Adam Malik yang kala itu menjabat menteri luar negeri (menlu).

Menyadari banyaknya pesan dari pejabat negara, Mifta boyongan ke Jakarta. Dia tinggal di belakang Hotel Indonesia (HI). Tiga tahun kemudian, tepatnya 1965, staf kepresidenan memesan lukisan untuk Bung Karno.

Selain untuk Bung Karno secara pribadi, lukisan tersebut juga dipajang di departemen dalam negeri, departemen luar negeri, dan Mahkamah Agung (MA). ”Dari sanalah saya kenal Pak Adam Malik yang saat itu menjabat sebagai menlu,” kata ayah enam anak ini.

Tak hanya itu, Mifta juga melukis 91 pahlawan nasional. Misalnya RA  Kartini, Cut Nyak Dien, Panglima Sudirman, Pangeran Diponegoro, dan lainnya. Lukisan tersebut kini ada di Istana Kepresidenan, Jakarta. (*/c4/dan)

Sumber : radarmalang.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: