Angkutan Cerdas Sekolah Sudah Beroperasi, Ada Pelajar Yang Tidak Berani Naik

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KOTA – Hari pertama pemberlakuan angkutan cerdas sekolah (ACS) bermasalah. Mulai pelajar gagal paham lantaran minim sosialisasi hingga pemilihan trayek. Akibatnya, sejumlah armada sepi peminat. Armada lain, kelewat penuh hingga butuh penambahan armada. ‘’Nggak berani naik ACS. Belum terdaftar,’’ kata Diah Arum, salah seorang pelajar, kemarin (20/2).


Siswi SMPN 6 Ponorogo asal Sampung tersebut terpaksa naik angkutan umum lain. Dia pun masih membayar. Sekali jalan Rp 4 ribu. Padahal, angkutan ACS gratis. Pun, setiap pelajar berseragam sejatinya bisa naik secara gratis. Diah menggeleng tidak tahu. Setahunya, pelajar yang bisa naik ACS sudah terdaftar. Pihak Dinas Perhubungan (Dishub) setempat memang sempat mendata sebelumnya. Terpilih sampel 500 pelajar wilayah kota. ‘’Inginnya bisa naik ACS. Kan gratis,’’ ujar siswa kelas VII itu.

Berbeda dengan Erwin Adi Saputra. Pelajar SMPN 3 Ponorogo tersebut sudah bisa menikmati layanan ACS. Banyak kelebihan menggunakan ACS. Hemat, cepat sampai, dan lebih aman. Pelajar kelas VII tersebut biasa naik sepeda motor ke sekolah. Diakuinya, kerap waswas. Apalagi pernah terjaring razia petugas. Lebih hemat lantaran tidak perlu keluar duit bensin. Sehingga, dia langsung mengiyakan tawaran penggunaan ACS tersebut. ‘’Senang,’’ jawabnya singkat.

Kepala Dishub Ponorogo Djunaedi membantah minim sosialisasi. Pihaknya sudah menyampaikan berulang kali ke pihak sekolah. Namun, memang tidak selalu langsung kepada siswa. Melainkan melalui perwakilan guru. Dia mengimbau pelajar berseragam tidak perlu takut naik ACS. Sebab, prinsipnya semua pelajar boleh naik. Pendataan 500 pelajar beberapa waktu lalu hanya sebagai sampel minat pelajar. ‘’Makanya kami tidak menerapkan sistem kartu atau karcis. Harapannya, semua pelajar bisa naik,’’ ungkapnya.

Terkait pelaksanaan ACS hari pertama kemarin, Djunaedi mengaku sudah cukup memuaskan. Keberhasilan mencapai 90 persen. Hampir semua armada penuh terisi. Antusiasme pelajar cukup baik. Namun, ada tiga armada trayek kota minim penumpang. Sebaliknya, sejumlah trayek di Kecamatan Sawoo, Pulung, Slahung, dan Sukorejo minta tambahan armada dan trayek. Djunaedi berencana mengalihkan sejumlah armada sepi peminat ke trayek baru. Paling tidak setelah evaluasi sepekan mendatang. ‘’Pastinya akan terus kami evaluasi. Jika perlu akan dilakukan penambahan ke depan hingga menjangkau semua,’’ pungkasnya sembari menyebut ada 23 trayek dengan 31 armada saat ini.

Korban Lakalantas Didominasi Usia Produktif

ANGKA kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Ponorogo naik tipis. Unit Laka Satlantas Polres Ponorogo mencatat pada Desember 2016 lalu terjadi 40 kasus. Sedangkan pada Januari 2017 tambah satu kejadian atau 41 kasus. ‘’Ini hasil analisa dan evaluasi (anev) laka Januari 2017,’’ kata Kanit Laka Satlantas Polres Ponorogo Ipda Badri kemarin (20/2).

Kasus kecelakaan Januari 2017 naik 2,5 persen jika dibanding Desember 2016. Angka tersebut belum termasuk kejadian yang tidak dilaporankan ke polisi. Dari 41 kasus pada Januari 2017 lalu, mengakibatkan delapan nyawa melayang. Sekitar 63 korban mengalami luka ringan. Kerugian materiil mencapai Rp 46,6 juta.

Namun, untuk korban meninggal dunia (MD) mengalami penurunan sekitar 20 persen dibanding bulan sebelumnya. Begitu juga dengan korban luka berat maupun luka ringan. ‘’Jumlahnya turun dari bulan sebelumnya,’’ terangnya.

Lokasi kecelakaan di wilayah perkotaan menempati urutan tertinggi dengan 19 kasus. Empat kasus lebih tinggi dibanding di jalan provinsi. Sedangkan waktu kecelakaan, hampir separo dari kasus terjadi pada malam hari. Sekitar 17 kasus yang terjadi antara pukul 18.00 hingga pukul 24.00. ‘’Kalau untuk hari kejadian, hampir semua sama,’’ terang Badri.

Usia produktif dan pelajar mendominasi korban kecelakaan di jalan raya. Dari 41 kasus, korban usia produktif (0-30 tahun) mencapai 30 kasus. Penyebab lakalantas semua human error (kesalahan manusia). Yang paling tinggi karena kurang konsentrasi saat berkendara. ‘’Angkanya mencapai 16 kasus,’’ sebutnya.

Faktor kesalahan manusia lainnya ugal-ugalan di jalan raya tanpa mempedulikan prioritas pesepeda atau pejalan kaki. Tingkat pemahaman terhadap aturan lau lintas juga jadi penyebab kecelakaan. Mulai dari cara membelok, mendahului, menyeberang dan tidak mematuhi lampu atau rambu lalu lintas. ‘’Faktor lain seperti jalan, kendaraan dan cuaca tidak ada pada Januari lalu,’’ paparnya.

Selama ini pihaknya sudah melakukan upaya pencegahan. Agar dapat menekan terjadinya angka lakalantas di jalan raya. Di antaranya selalu updating troublespot atau perhatian khusus pada titik rawan kecelakaan. Selain itu juga melalui rekayasa lalu lintas yang sebelumnya dilakukan rapat koordinasi dan peninjauan di TKP. ‘’Juga mengupayakan agar fasilitas jalan lengkap,’’ tambahnya.

Selama ini, lanjut Badri, polisi juga terus sosialisasi kepada masyarakat tentang tertib berlalu lintas. Pun tidak hanya mengandalkan tingginya penindakan pelanggaran (dakgar). ‘’Justru yang diperlukan adalah dakgar selektif, dengan memperhatikan jenis pelanggaran dan lokasi dari data update kejadian Laka lantas,’’ pungkasnya. (agi/tif/sat)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: