Puluhan Rumah di Ponorogo Harus Direlokasi

Sponsored Ad

Sponsored Ad
SAWOO - Bencana alam tanah gerak di sejumlah wilayah Kabupaten Ponorogo terus terjadi dalam waktu yang lama. Untuk kali kesekian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Jawa Barat, merekomendasikan relokasi warga terdampak.
BAHAYA: Salah satu ruas jalan Ponorogo–Trenggalek di Desa Pangkal, Sawoo, Ponorogo yang retak karena bencana Rabu (15/2). Kerusakan juga terlihat di titik lain di desa setempat. (R BAGUS RAHADI/RADAR PONOROGO)

’’Banyak rumah di lokasi bencana yang tidak layak huni,’’ kata Ketua Tim PVMBG Bandung Heri Purnomo. Menurut dia, jumlahnya mencapai puluhan. Rumah-rumah itu tersebar di empat kecamatan. Yakni, Desa Sriti dan Tempuran (Kecamatan Sawoo), Desa Tugurejo (Slahung), Desa Berkiring (Pulung), dan Desa Talun (Ngebel). Kondisinya mulai rusak berat, ringan, hingga terancam.

Tim PVMBG yang datang ke Ponorogo September lalu menjelaskan, pemicu tanah gerak cukup kompleks. Di antaranya, faktor geografis serta perlakuan lingkungan yang kurang tepat. ’’Secara geografis, Ponorogo terbentuk dari batuan vulkanis. Jenis batuan tersebut kebanyakan membentuk lereng dengan kemiringan bervariasi,’’ ujarnya.

Heri menambahkan, banyaknya perbukitan di Ponorogo, mulai yang landai hingga terjal, membuat tanah bergerak. Wilayah bencana tanah gerak berada di lereng dengan kemiringan rata-rata lebih dari 30 derajat. Selain itu, wilayah Ponorogo berada di atas zona patahan. Hal tersebut mengakibatkan batuan dasar di wilayah itu terpecah-pecah.

Tanah dengan batuan dasar tidak dapat saling mengikat. Akibatnya, bidang gelincir bermunculan. Tak pelak, tanah mudah bergerak jika terjadi gempa atau saat kandungan air di dalamnya berlebih. ’’Sifat fisik tanah pelapukan di Ponorogo juga lunak. Hujan sedikit saja sudah memicu pergerakan tanah,’’ jelasnya.

Parahnya, potensi hujan di Ponorogo cukup tinggi. Rata-rata curah hujan mencapai 110 mililiter per hari. Jadi, hal tersebut mempercepat pergerakan tanah. Heri pun menunjukkan bukti retakan di Desa Talun, Ngebel, yang memiliki lebar 4 meter saat mitigasi September lalu. Padahal, lebar retakan baru 1,5 meter kala peninjauan pertama lima bulan sebelumnya. Artinya, ada pergerakan yang signifikan.

Terbaru, di Desa Pangkal, Sawoo. Lebar retakan bertambah 7 sentimeter hanya dalam waktu sepekan.’’Harus segera dibuatkan saluran air permukaan. Air yang tidak mengalir baik menjadikan tanah bertambah berat dan mengurangi tingkat kekerasan tanah,’’ imbaunya lantas menyebut aliran air di daerah lereng harus baik dan lancar.

Heri menyatakan, pergerakan tanah bisa saja terhenti jika menemukan titik keseimbangan. Namun, dia memprediksi butuh waktu belasan hingga puluhan tahun. ’’Pergerakan tanah kami prediksi masih terjadi ke depan. Antisipasi jangka panjangnya ya relokasi,’’ ujarnya. (agi/sat/c22/diq)

Sumber : jawapos.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: