Gaduh pembagian kios terminal bus Seloaji, Pedagang Ancam Lapor Polisi

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BABADAN – Gaduh pembagian kios terminal bus Seloaji berlarut-larut. Belum muncul titik temu hingga dua pekan pasca-beroperasinya terminal tipe A itu. Akibatnya, sejumlah pedagang keleleran tanpa kios. Beberapa lainnya memilih buka dikios lama kendati sepi penumpang yang lewat.

Masalahnya masih sama. Pihak pedagang dan pengelola terminal ngotot mempertahankan keinginan masing-masing. ‘’Kami hanya ingin keadilan. Caranya,pembagiannya ya harus diundi. Bukan ditunjuk seperti ini,’’ kata Ketua Paguyuban Pedagang Terminal Seloaji Juwairanto, kemarin (9/3).

Pun, kata dia, kriteria penunjukannya ngawur. Bukan pedagang lama yang diprioritaskan. Namun, sebagian pedagang baru. Ironisnya, malah mendapat kios di blok A yang strategis lantaran berhadapan dengan area naik turun penumpang bus antar kota antar provinsi (AKAP). Apalagi, penyerahan kunci dilakukan sembunyi-sembunyi. ‘’Kalau niatnya memang baik, kenapa tidak transparan. Ada apa ini?’’ sergahnya.

Kecurigaan Juwairanto dkk memuncak setelah pertemuan terakhir dengan pengelola terminal beberapa hari lalu. Hanya sepuluh pedagang yang diundang. Beberapa di antaranya pedagang baru. Pihaknya yang mendengar ada pertemuan tersebut turut datang. Namun, tidak diperkenankan masuk.

Mereka diminta menunggu diluar ruang rapat. Alasannya, lantaran tidak diundang. Tak pelak, muncul kegaduhan hingga akhirnya pertemuan batal. ‘’Proses pembagian kios harusnya ditunda dulu hingga ada titik temu. Tapi pihak pengelola memberikan kunci kepada pedagang secara selintutan,’’ ujarnya.

Bahkan, sejumlah pedagang yang sudah mendapat kios langsung buka lapak. Dia menyebut beberapa pedagang memiliki lebih dari satu kios. Padahal, pengelola terminal dengan tegas menyebut satu orang satu kios. Alasannya juga tidak masuk akal. Mereka yang sudah mendapat kios disebut pengelola dapat menunjukkan kuitansi pelunasan kios terminal terdahulu.

Menurut dia, itu dapat memicu masalah baru jika diterapkan. Sebab, pedagang terminal lama nyaris mengantongi kuitansi. Jumlahnya mencapai ratusan. ‘’Data yang kami berikan hanya pedagang lama yang aktif. Kalau berdasar kuitansi, pihak pengelola bisa tidak menyiapkan ratusan kios. Kami tidak ingin nantinya gaduh,’’ katanya sewot.

Pihaknya berencana lapor polisi bermodal surat pernyataan yang ditandatangi kepala terminal. Dalam surat perjanjian itu disebutkan pembagian kios dilaksanakan dengan sistem undian. Pihak terminal wajib bersikap netral.

Pihak pengelola mblenjani janji dengan memberikan kunci kios secara tersembunyi-sembunyi. Bahkan, ada yang diantar langsung ke rumah pedagang. ‘’Kalau tidak ada niatan lain kenapa harus seperti itu caranya,’’ herannya.

Sugianti, salah seorang pedagang, memilih tetap berjualan di area terminal lama. Meski sudah sepi sejak beroperasi terminal baru. Dia belum mendapat jatah kios. Padahal, pedagang lama sejak terminal di Jalan Basuki Rahmad. Dia sempat menanyakan kepada pengelola, tapi diminta menunggu. Kecemburuannya memuncak setelah  pedagang baru memamerkan kunci. ‘’Masak pedagang asongan yang tidak memiliki kios malah sudah dapat. Apa ini yang disebut adil,’’ cetusnya.

Kepala Terminal Bus Seloaji Suyatno mengklaim pembagian kios sudah klir. Beberapa di antaranya sudah mulai buka. Suyatno mengaku sengaja tidak melaksanakan sistem undian. Dia menilai sistem itu juga belum memenuhi unsur keadilan. Dia khawatir bakal terjadi kegaduhan jika pedagang lama mendapat kios di belakang saat diundi.

Pihaknya memilih jalan lain. Kriteria kios menyesuaikan lamanya berdagang. Pihaknya bakal langsung menunjuk kiosnya. Syaratnya, harus dapat menunjukkan kuitansi pelunasan. ‘’Prinsipnya kalau dapat menunjukkan kuitansi pelunasan langsung kami beri kunci,’’ ujarnya.

Dia berharap pedagang menghormati posisinya sebagai kepala terminal. Dia punya kewenangan menata dan membuat kebijakan. Namun, keinginan pedagang tetap bakal ditampung.

Selain itu, pihaknya juga harus mengacu aturan pusat. Sebab, terminal tipe A menjadi tanggung jawab Kementerian Perhubungan. Suyatno membantah ada permainan dalam pembagian kios. ‘’Tidak ada tendensi kepada siapapun. Murni karena aturan,’’ tegasnya. (agi/sat)

http://radarmadiun.co.id/detail-berita-6685-pedagang-ancam-lapor-polisi.html
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: