KPK Sita 13 Alat Berat Anak Walikota Madiun

Sponsored Ad

Sponsored Ad
MADIUN – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak kenal lelah memburu aset Wali Kota Madiun (nonaktif) Bambang Irianto (BI) yang dianggap bermasalah. Setelah menyita aset di Kota Madiun, Jombang, dan Kediri akhir Februari lalu, penyidik komisi antirasuah kembali bergerak. Sasaran kali ini adalah Kabupaten Ponorogo dan Wonogiri.

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, ada 13 unit alat berat yang turut disita KPK, Senin (6/3). Lokasinya di Desa Biting, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur; dan Desa Biting, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Belasan alat berat itu beratasnamakan Bonnie Laksmana, anak kandung BI.  Penyidik menemukan indikasi kuat jika masing-masing alat berat saling berhubungan dengan praktik tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang dilakukan tersangka BI.  ‘’Alat beratnya masih dititipkan ke pihak penyewa. Karena memang ada hubungan dengan pihak ketiga, kami masih pertimbangkan lebih lanjut,’’ kata Febrikemarin (7/3).

Sejumlah alat berat yang disita itu di antaranya dua unit mesin pencacah batu, ekskavator, dan backhoe. Meski seluruh alat berat dimiliki Bonnie, statusnya kini masih sebatas saksi. Sebab, KPK saat ini masihterfokuspada penyelesaian kasus BI. ‘’Jadi, kami masih fokus ke penyidikan tersangka BI dulu,’’ ujar mantan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) itu.

Meski begitu, lanjut Febri, bukti permulaan yang telah dikantongi KPK dirasa sudah cukup. Sehinggatidak menutup kemungkinan jika penyidik akan memproses pihak lain yang terlibat dalam perkara BI. ‘’Tentu kami masih dalami peran dari pihak-pihak lain. Karena bukti permulaan yang kami kantongi juga sudah cukup. Tapi, sementara ini kami sedang memproses perkara dengan satu tersangka,’’ jelasnya.

Sementara ini, ada tiga penyidikan yang dilakukan KPK terhadap tersangka BI. Ketiga perkara itu meliputi dugaan tindak pidana korupsi pembangunan Pasar Besar Madiun (PBM) tahun anggaran 2009-2012, dugaan gratifikasi, dan TPPU. ‘’Kasus kedua yang kami tanganijuga tidak menggunakan pasal suap. Tapi, pasal 12 B tentang Penerimaan Gratifikasi,’’ bebernya.

Pihaknya memang sengaja memberi sangkaan pasal 12 B (gratifikasi) terhadap tersangka BI. Sebab, keberadaan pasal itu tidak harus menyeret pihak pemberi yang dibuktikan secara rinci di dalamnya. Celah itu yang kemudian membantu penyidik untuk menemukan berbagai bentuk penerimaan uang dari pihak lain ke BI. ‘’Kami gunakan pasal 12 B karena memang lebih efektif,’’ lanjutnya.

Dalam perkara gratifikasi itu,penyidik KPK telah menemukan adanya pengubahan bentuk sejumlah uang menjadi aset tanah, bangunan, kendaraan, logam mulia, dan saham. Masing-masing diatasnamakan dirinya sendiri, keluarga, dan sejumlah pihak lain. Penyidik menduga BI menerima gratifikasi sekitar Rp 50 miliar. ‘’Uang itu diduga diterima BI dari sejumlah pengusaha dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kota Madiun,’’ ungkapnya.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Ponorogo, tim penyidik telah menyita tiga unit alat berat milik Bonnie di Desa Biting, Kecamatan Badegan. Terdiri dari dua mesin pencacah batu berbagai ukuran dan satu unit backhoe. Ketiga alat itu berada di sebuah lahan pengolahan material bangunan yang berbatasan persis dengan Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri.

Supriyadi, salah seorang warga setempat yang bekerja di area pertambangan dekat lokasi penyitaan mengaku, lahan itu merupakan milik mantan anggota DPRD dari Partai Demokrat. Alat berat itu berstatus sewa. Sepengetahuannya, tempat pengolahan bahan material itu juga jarang beroperasi lantaran terkendala masalah pendanaan. ‘’Gaji pegawai juga sering tersendat. Kadang sebulan dapat, kadang tidak. Tergantung operasional,’’ ungkapnya. (her/ota)

Sumber : http://radarmadiun.co.id/detail-berita-6655-kpk-sita-13-alat-berat-bonnie.html
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: