Mulyono, Ketua RT di Ponorogo dengan Segudang Ide

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO --- Menjadi ketua Rukun Tetangga (RT), membuat Mulyono (65 tahun) warga RT 1 RW 1 Dusun Kudo, Desa Bungkal, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo membuatnya harus aktif mencari ide kreatif agar masyarakat terus berkegiatan aktif secara bersama-sama. Mulai dari menghidupkan kembali Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling), bercocok tanam dalam polybag dan juga budidaya jamur tiram.

Kegiatan yang diluncurkan bapak dua orang anak selalu mendapat respon positif dari warganya. Siskamling yang mulai aktif sejak dua tahun terakhir, membuat lingkungan di desanya aman dari sasaran pencuri.

“Setiap malam selalu ada yang jaga, minimal empat orang keliling menjaga lingkungan,” jelasnya kepada Cendana News saat ditemui di rumahnya, Senin (20/3/2017).

Bahkan oleh Kapolsek Bungkal, Mulyono diberikan satu buah borgol jika sewaktu-waktu ada pencuri yang berhasil ditangkap warga. Ini bukti Siskamling yang ada di Dusun Kudo berjalan lancar.

Tidak hanya melakukan Siskamling, warga juga harus mengambil jimpitan yang merupakan iuran warga yang ditaruh di dalam kaleng kecil di masing-masing rumah warga. Setiap jimpitan diisi minimal Rp 500 per rumah.

“Jaga sekaligus menarik iuran warga, kan kalau yang jaga datang sampai depan rumah bisa lebih aman,” cakapnya.

Adanya fenomena mahalnya harga cabai di pasar, Mbah Mul sapaan akrab Mulyono, mulai mewajibkan warganya menanam cabai di dalam polybag. Program ini diberlakukan untuk setiap rumah, harus menanam delapan polybag yang diisi benih cabai.

“Benih, tanah, pupuk dan polybag berasal dari iuran warga, untungnya warga mendukung kegiatan ini,” tuturnya.

Menurutnya, dengan adanya cabai yang ditanam sendiri dengan memanfaatkan lahan yang ada, bisa membantu sedikit mengurangi pengeluaran belanja. Diperkirakan program ini hanya menghabiskan dana Rp 1 juta.

“Disini ada sekitar 50 Kepala Keluarga (KK), kalau setiap rumah delapan polybag, ya kira-kira habisnya sekitar Rp 1 juta, ini gratis buat warga, uangnya berasal dari warga,” tandasnya.

Dan terakhir, ide yang sudah dijalankan oleh Mulyono, pemanfaatan ruang kosong di rumahnya, yang digunakan untuk budidaya jamur tiram. Mengingat di Pasar Bungkal sendiri, komoditas jamur tiram banyak peminatnya namun masih sedikit pemasoknya.

“Kalau dijual kan lumayan per kilogram bisa mencapai Rp14 ribu dari petani,” tukasnya.

Apalagi perawatan jamur bisa dibilang mudah, hanya memerlukan tempat yang lembab. Jamur pun bisa setiap hari panen jika ada yang sudah tumbuh.

“Ini saya mengawali jamur, kalau sukses nanti warga saya juga saya programkan budidaya jamur tiram di rumah masing-masing,” pungkasnya.

Sumber : cendananews.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: