Nikahi Nenek 67 Tahun, Rokim Ingin Perbaiki Rumah dan Punya Momongan

Sponsored Ad

Sponsored Ad
MADIUN - Keseriusan Rokim (24), pemuda asal Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk untuk membahagiakan Tampi (67), pasangan hidupnya tidak hanya sekedar menikahinya saja.
Meski hanya seorang buruh tani, Rokim bercita-cita memperbaiki rumah Tampi yang kini ditempati keduanya.

"Saya ingin memperbaiki rumah istri agar layak ditempati. Minimal dinding rumahnya bisa tembok bukan lagi triplek yang mudah rusak kena air dan dimakan rayap," ujar Rokim, Jumat ( 17 / 3 / 2017).

Rumah milik Tampi di RT 009/RW 002, Desa Nampu, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun sangatlah sederhana. Dinding rumahnya seluruh terbuat dari papan triplek. Lantainya pun masih berupa tanah.

"Kalau hujan atapnya banyak yang bocor mas," kata Rokim.

Rumah Tampi terbagi menjadi tiga ruangan, ruang tamu, ruang tidur, dan dapur. Meski memiliki ruang tamu, Tampi dan Rokim tak memiliki perabotan seperti kursi dan meja tamu. Di ruang tamu, pasangan yang baru menikah sepekan lalu itu malah menempatkan kasur kapuk tipis beralaskan tikar.

Di ruang tidur, terpasang satu kasur kecil dengan tempat tidur kayu yang sudah usang.

Ruang itu jarang dipakai semenjak Tampi dan Rokim sudah menikah. Keduanya lebih memilih tidur di ruang tamu beralaskan kasur kapuk dan tikar.

"Tidur di ruang tamu lebih enak karena tidak pengap," jelas Rokim.

Sementara itu, di bagian belakang, Tampi memiliki dapur yang menjadi satu dengan kandang kambing. Untuk memasak, Tampi dan Rokim hanya mengggunakan kayu. Keduanya belum mampu membeli kompor gas.

"Untuk masak, kami masih pakai kayu," kata Rokim.

Mengenai kambing yang di peliharanya, Rokim mengaku hewan itu hanya titipan orang lain. Ia akan mendapatkan keuntungan manakala induknya sudah melahirkan anak.

"Hewan itu bukan milik kami. Kambing dititipkan orang ke kami. Kalau kambingnya sudah beranak baru kami mendapatkan satu anak kambing," ucap Rokim.

Untuk mewujudkan impian memperbaiki rumah sang istri tercinta, pria kelahiran Nganjuk, 10 Juni 1993 itu akan rajin bekerja dan menabung.

Rokim mengatakan, setelah menikah dirinya akan rajin bekerja dan menabung untuk memperbaiki rumah. Ia memiliki rencana bekerja beberapa minggu di Surabaya karena upahnya yang besar. Pasalnya, bila mengandalkan kerja ditempat tinggal sekitarnya, upahnya sangat kecil.

"Kalau kerja di Surabaya, per harinya saya bisa dapat Rp 100.000. Tapi kalau di sini paling banyak upahnya Rp 50.000 sehari," kata Rokim yang tak tamat SD ini.

Tak hanya itu, istrinya pun tidak tinggal diam. Usai menikah, Tampi mendapatkan pekerjaan tetap di salah satu warung makan tak jauh dari rumahnya. Meski tak seberapa penghasilannya, ia bersyukur lantaran pernikahan itu membawa berkah bagi dirinya dan Tampi.

"Kalau dahulu mijat orang tidak setiap hari ada. Kalau sekarang membantu di warung seharinya bisa mendapatkan uang dari pemiliknya Rp 25.000 sampai Rp 30.000," tutur Rokim.

Tak hanya memperbaiki rumah, Rokim pun memiliki harapan bisa memiliki anak.  Ia berharap ada keajaiban dari Tuhan akan menganugerahkan anak baginya.

"Saya sih ingin punya anak meski istri saya mandul. Semuanya saya pasrahkan kepada Allah," kata Rokim.

Mengetahui suaminya bersemangat memperbaiki rumah, Tampi pun tak mau kalah. Upah yang didapatkan dari kerja di warung pun ditabungkan untuk memperbaiki rumah. Harapannya, rumah yang diperbaiki nanti bisa membuat rumah tangganya langgeng dan nyaman.

"Kalau rumah sudah diperbaiki kan jadinya nyaman untuk ditempati," tutur Tampi.
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: