Setelah Free Wifi, Kini Arena Biliar

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KOTA – Menjamurnya warung dan kafe di Ponorogo membuat orang tua resah. Sebab, beberapa tempat disinyalir jadi tempat bolos para pelajar. Apalagi, sejumlah tempat nongkrong itu menawarkan fasilitas yang kini sedang digandrungi kawula muda.

Selain layanan akses internet gratis juga meja biliar. Tak pelak, oknum pelajar semakin betah berlama-lama. ‘’Pamitnya ke sekolah. Saya dapat kabar anak saya di tempat biliar. Setelah saya cek, ternyata benar,’’ kata Miseno, salah seorang wali murid, kemarin (21/3).

Warga Desa Lembah, Babadan, tersebut awalnya tidak percaya kabar tersebut. Apalagi, anaknya yang kini duduk di kelas X salah satu SMK di Ponorogo pendiam dan tidak neko-neko. Miseno yang penasaran akhirnya mendatangi salah satu warung makan di Babadan yang dimaksud.

Dia tersenyum lega lantaran tidak mendapati anaknya di warung itu. Bahkan, Miseno sempat membantah tuduhan teman anaknya yang memberikan informasi sebelumnya. ‘’Saya diminta mengecek ke belakang. Ternyata ada arena biliarnya. Anak saya juga ada disitu,’’ ungkapnya sembari menyebut seharusnya ada aturan khusus bagi anak sekolah.

Menurut anggota Komisi B DPRD Ponorogo Agus Dermawan, fenomena ini bak pisau bermata dua. Disatu sisi berkembangnya usaha ini mendongkrak perekonomian masyarakat. Namun, berdampak pada bidang lain jika tidak diatur. Salah satunya, dunia pendidikan.

Dia tak membantah kerap mendapati pelajar asyik nongkrong di warung dan kafe pada jam sekolah. Mereka betah berlama-lama. Sebab, fasilitas yang ditawarkan cukup lengkap. Mulai, musik, menu, akses internet, hingga meja biliar. ‘’Bukan hanya di kota, warung kopi di pelosok desa sudah menawarkan freewifi dan biliar,’’ bebernya.

Pihaknya bakal segera berkoordinasi dengan internal komisi dan pemkab. Menurut dia, butuh produk hukum untuk mengaturnya. Terutama pelajar. Namun, aturan itu tidak berbenturan dengan kepentingan pengusaha.

Dia menambahkan, aturan serupa sejatinya sudah pernah ada. Seperti pelarangan pelajar berseragam di mal. Aturan dimungkinkan bakal diperluas hingga warung, kafe, dan restoran. ‘’Tidak mungkin melarang pengusaha menolak pembeli. Kemungkinan pelajar diberi batasan jam bermain,’’ pungkasnya.

Terpisah, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni berencana menerbitkan perbup hingga perda terkait aturan pembatasan jam bermain para pelajar tersebut. Paling tidak pelajar wajib berada di rumah saat jam-jam belajar setelah pulang sekolah.

Pihaknya bakal menggelar razia pada jam-jam tertentu sesuai aturan. Pelajar yang kedapatan melanggar didata. Kesalahan juga akan dilaporkan ke sekolah untuk dilanjutkan ke wali murid. Aturan ini dinilai penting sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan Ponorogo. ‘’Banyak waktu terbuang percuma setelah pulang sekolah. Malah ada yang sampai terlibat tindak kriminal. Makanya jam keluyurannya yang kami batasi,’’ ujarnya. (agi/sat)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: