Makin Bahaya, Sumur Ambles di Kediri Meluas ke Desa-Desa Lain, Kini 118 Sumur Ditelan Bumi

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KEDIRI - Masyarakat di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri yang berada di lereng Gunung Kelud makin was-was.

Ini seiring dengan makin meluasnya radius sumur ambles ditelan bumi yang ada di wilayah tersebut.

Jika sebelumnya, sumur ambles dan ambrol hanya berada di Desa Manggis, kini fenomena alam langka tersebut meluas ke sejumlah desa lain, yang masih bertetangga dengan Desa Manggis.

Pantauan di lapangan, sumur di dua desa, yakni Dusun Jatirejo, Desa Gadungan dan Dusun Karangnongko,

Desa Sumberagung, Kecamatan Puncu mulai ikut terdampak.

Di Dusun Jatirejo malahan sudah ada sekitar 10 sumur yang telah terdampak ambles.

"Laporan awal sudah ada empat sumur yang sudah ambles dan enam sumur lainnya airnya sudah mulai keruh," ungkap Katini, Kepala Dusun Jatirejo kepada Surya, Sabtu (29/4/2017).

Warga kedua dusun itu khawatir jumlah sumur yang terdampak bakal semakin meluas seperti yang terjadi di Desa Manggis.

Apalagi masih belum semua warga yang melaporkan kondisi terbaru sumurnya. "Ada juga sumurnya yang mulai retak-retak," tambahnya.

Sementara di Dusun Karangnongko, Desa Sumberagung sudah ditemukan belasan sumur warga yang mulai ambles dan airnya keruh. Warga mulai khawatir jumlah sumur terdampak semakin meluas.

Jarak Dusun Jatirejo dan Dusun Karangnongko dengan Desa Manggis hanya terpaut sekitar 3 kilometer.

Sementara di Desa Manggis sendiri, berdasar hasil pendataan terakhir jumlah sumur yang sudah ambles ditelan bumi totalnya mencapai 71 sumur.

Jumlah ini bertambah tujuh dari data semula yang hanya 64 sumur. Itu diluar sumur warga yang airnya mulai keruh dan jumlahnya mencapai 117 sumur.

Sumur ambles ini tersebar di lima dusun. "Kasus terbaru ditemukan di Dusun Manggis, satu sumur ambles dan 14 sumur mulai keruh," jelas Sunardi, Sekretaris Desa Manggis kepada Surya.

Sedangkan sumur yang sudah mulai keruh kasusnya telah meluas di lima dusun. Sehingga total sudah ada 117 sumur warga yang airnya mulai keruh tak layak dikonsumsi.

Jika ditambah 71 sumur yang sudah mulai ambles total ada 188 sumur di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, yang berada di lereng Gunung Kelud yang ambles ditelan bumi dan airnya keruh serta tidak layak dikonsumsi.

Malahan di Dusun Ringinbagus yang sebelumnya tidak ada laporan masuk, saat ini telah ditemukan 39 sumur yang airnya mulai keruh.

Sementara tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang sudah ditunggu lama oleh warga akhirnya telah tiba di Desa Manggis untuk melakukan penelitian lapangan.

Tim yang dipimpin Hery Purnomo ini telah meneliti permukaan air, struktur tanah dan busa yang terdapat dalam air sumur yang ambles.

Menurut Hery Purnomo, gejala tersebut merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di daerah vulkanik karena adanya endapan pasir yang terjadi penurunan di bawah tanah.

Terkait adanya busa pada sumur yang ambles bakal diteliti lagi kandungannya. Tim telah mengambil sampel air untuk diteliti di laboratorium.

Penelitian bakal ditindaklanjuti lagi dengan meneliti lapisan tanah untuk mengetahui seberapa besar rongganya.

Sedangkan tim Hydrogeologi bakal meneliti dan mengkaji seberapa besar aliran air di dalam tanah.

"Tim bakal memetakan lokasi sumur yang ambles kemudian dilakukan analisa," tegas Hery.

Sebelumnya, fenomena alam langka amblesnya sumur warga di Kediri yang ditelan bumi tersebut juga menarik perhatian Amien Widodo, Pakar Bencana dari ITS Surabaya.

Menurut Amien, ambles dan ambrolnya puluhan sumur milik warga di Dusun Dorok, Dusun Jambean dan Dusun Nanas yang berada di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri merupakan pertanda akan adanya longsor.

Sumur ambles dan ambrol tersebut karena adanya retakan tanah di wilayah tersebut.

"Makanya pada tahap awal area dengan lubang akan terlebih dulu ambles dan ambrol," tegasnya, kepada Surya.

Jika berkaca peristiwa longsor di Ponorogo, juga terjadi retakan tanah dan penurunan permukaan tanah.

Hanya saja peristiwa di Ponorogo, kata Amien Widodo yang juga Koordinator Pusat Studi Kebumian Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBPI) ITS ini berlangsung selama tiga minggu secara bertahap.

“Kalau sudah 55 sumur itu cukup parah, bisa jadi nanti tahap airnya hilang dan tanahnya ambles," tegasnya.

Apalagi kalau curah hujan tinggi, maka harus segera diamankan. Karena bisa saja tiba-tiba longsor.

Ia menjelaskan, peristiwa longsor terjadi akibat lapukan tanah yang cukup tebal di pegunungan.

Lapukan yang awalnya diikat oleh akar tanaman saat ini tidak ada yang menahan. Sehingga tanah tersebut akan ambrol saat air hujan memasuki rongga lapukan dan membuat masaa tanah semakin berat.

“Fenomena ini tidak karena penebangan 1 atau 2 tahun yabg lalu, tapi belasan tahun lalu. Sekarang baru dampaknya terlihat semua,” ucapnya.

Peristiwa retaknya tanah di area lereng pegunungan juga terjadi di Nganjuk dan Madiun sebelum longsor. Sebab, banyak area hutan yang telah dijadikan lahan pertanian.

“Retakan ini biasanya 300 meter, jadi bisa dilihat nanti apa kampung lainnya juga berjarak hingga sepanjang itu dengan lokasi ambrolnya sumur,” tegas Amien. (Surya/Didik Mashudi)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: