Mengayuh Becak Hingga Nafas Terakhir

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BABADAN – Perjuangan hidup Sudarminto memang hebat. Setiap hari dirinya selalu berangkat sepagi mungkin untuk mencari rejeki demi sesuap nasi. Dedikasi dan loyalitas lelaki 63 tahun pada profesinya itupun tak perlu diragukan lagi.
Polisi memeriksa kondisi Sudarminto yang meninggal di atas becaknya, Rabu (26/4).

Betapa tidak, Sudarminto menghembuskan nafas terakhir saat menjalankan profesinya sebagai pengayuh becak. Ironis, warga Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, justru meregang nyawa di atas becaknya yang jadi sumber penghidupannya selama ini.

Ajal menjemput saat dia mangkal di Jalan Soekarno-Hatta, selatan traffic light simpang empat Kelurahan Banyudono, Ponorogo pada hari Rabu (26/4) kemarin.  Kejadian itu diketahui seorang warga yang ngopi tak jauh dari lokasi kejadian.  Waktu situ masih pagi, sekitar pukul 07.00.

"Dikira tidur, ternyata sudah meninggal," kata Kasubbag Humas Polres Ponorogo AKP Sudarmanto.

Dari keterangan para saksi, sebelum kejadian korban sempat kejang-kejang sebentar. Lalu, lemas dan seperti orang tertidur. Karena penasaran, saksi mendekati korban untuk memastikan kondisi tukang kakek yang sudah menduda itu.

"Posisinya masih di atas becaknya," ungkapnya.

Saksi pun memanggil warga lain di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Tak lama kemudian, banyak warga berkerumun pun pengguna jalan yang sedang melintas di lokasi. Salah seorang warga lantas melapor ke pihak kepolisian.

"Kebetulan TKP-nya tidak jauh dari pos polisi Pasar Legi, jadi bisa langsung ditangani,’’ ujarnya.

Korban mengenakan kaus lengan pendek warna biru langit kombinasi bagian lengan biru tua, dan celana kolor pendek warna krem. Saat ditemukan korban dalam posisi duduk dengan kepala tersandar pada becak bagian kanan.

"Kemungkinan habis mengantar penumpang dan kelelahan," duganya.

Korban langsung dibawa ke rumahnya. Sebelum diserahkan ke pihak keluarga, juga dilakukan pemeriksaan medis. Hasilnya, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Pun dalam keadaan wajar. Dugaan sementara, karena penyakit jantungnya kambuh mendadak.

"Setelah diperiksa langsung diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan," tambahnya.

Lurah Kertosari Dwiyanto juga sempat datang ke TKP. Menurut keterangan teman korban sesama tukang becak, biasanya almarhum mangkal di sekitar Tonatan. Tapi, sebelum peristiwa itu, korban mengantar penumpang ke daerah terminal bus Seloaji.

"Itu kata temannya, benar tidaknya saya kurang tahu," sebutnya.

Menurut Dwiyanto, selama ini warganya itu tinggal seorang diri. Korban seorang duda cerai mati. Sudarminto pernah rawat inap di salah satu rumah sakit swasta di Ponorogo. Sekitar 40 hari sebelum peristiwa kemarin. Kala itu korban menderita penyakit jantung.

"Pemakaman langsung dilakukan kemarin setelah dilakukan pemeriksaan dari polisi," jelasnya. (tif/sat/jprm)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: