Muncul ’LUMPUR HIDUP" di Banaran Pulung

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PULUNG – Potret lokasi longsor di Desa Banaran, Pulung, Ponorogo, berubah pasca-banjir lumpur. Muncul aliran sungai baru dan empat titik genangan air. Sehingga, terdapat tandon-tandon air ditengah areal timbunan longsor. Tak pelak, banjir lumpur dengan skala lebih besar mengancam sewaktu-waktu. ‘’Kalau genangan ini jebol banjir lumpur diperkirakan dapat menjangkau 20 rumah lain di bawah,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Setyo Budiono, kemarin (20/4).

Sebab, genangannyarelatif besar. Utamanya di sektor A. Diameternya mencapai lima meter. Kedalamannya belum dapat diprediksi. Genangan ini menampung dua aliran sungai. Tak pelak, debitnya semakim bertambah. Genangan lain muncul di sektor B dan C. Dua di sektor B berdiamter satu meter dan setengahnya. Sedang, di sektor C sekitar 30 sentimeter. ‘’Kelihatannya kecil tetapi kandungan air dibawahnya besar,’’ ungkapnya.

Itu terlihat dari tanah sekitar genangan menjadi lembek. Mirip lumpur hidup. Tak pelak, cukup berbahaya. Budi melarang petugasnya mendekat. Petugas yang sebelumnya meninjau langsung ditarik mundur begitu mendapati tanah lembek. Kondisi bertambah parah setelah kondisi tanah di pinggir mudah longsor. Muncul retakan-retakanakibat terguyur hujan. Tanah menjadi bertambah berat. ‘’Lokasi cukup rawan. Proses pencairan sumber di sektor B dan C terpaksa kami hentikan,’’ jelasnya.

Pihaknya berencana mengalirkan air dari sumber tersebut melalui pipa. Tujuannya agar tidak membuat aliran liar di areal longsor. Sebab, dapat memperparah kondisi di lokasi. Sebab, aliran sungai lama di sektor D tertimbun material. Akibatnya, air membuat aliran baru di sebelah kiri. Jaraknya sekitar delapan meter. Ironisnya, aliran baru ini segaris dengan permukiman penduduk di bawah. Tak pelak, cukup membahayakan jika meluap. ‘’Kalau hujan dengan intensitas seperti kemarin akibat yang ditimbulkan dapat lebih parah,’’ terangnya.

Pihaknya berencana memfungsikan kembali aliran sungai lama yang langsung menuju sungai sisi bawah. Timbunan material dibersihkan dengan menyemprot air. Pekerjaan semakin berat lantaran aliran sungai di bawah menyempit akibat banyaknya batang pohon yang terbawa.

Pihaknya bakal berbagi tugas membersihkan kedua aliran sungai itu. Namun, pekerjaan juga bergantung cuaca. Sebab, lokasi tidak memungkinkan jika turun hujan. ‘’Prinsipnya membuat aliran sungai lancar agar tidak mengarah ke rumah warga,’’ ujarnya sembari menyebut juga mengancam gedung TK, SD, dan kantor desa.

Seperti diberitakan ancaman bencana susulan di lokasi tanah longsor Banaran benar-benar terjadi. Hujan deras yang mengguyur kawasan bencana, Rabu (19/4), mengakibatkan banjir lumpur. Tiga rumah warga di Dusun Krajan, rusak diterjang luapan lumpur. Beruntung, penghuninya sudah diungsikan sejak bencana terjadi 1 April 2017 lalu. (agi/sat)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: