Nenek di Ponorogo ini Tinggal Bersama 3 Kambingnya Selama Bertahun-tahun, Kisahnya Ramai di Medsos

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BADEGAN - Kisah nenek yang tinggal bersama kambingnya di Ponorogo tengah ramai dibicarakan di media sosial. Bagaimana sosoknya?

SURYAMALANG.com mengunjungi nenek itu di Dukuh Brangkal, Desa Biting, Kecamatan Badegan pada Jumat (21/4/2017).

Nenek itu diketahui bernama Samitun. Usianya sudah 85 tahun.

Selama ini Samiatun hidup mandiri. Ia memang benar tinggal bersama tiga ekor kambingnya di rumahnya yang lebih menyerupai sebuah kandang.

Samitun tidak dikarunia anak. Sementara, suaminya bernama Tego sudah meninggal sekitar tahun 1990'an.

Sehari-hari ia tidur ditemani tiga ekor kambing yang ia beri nama Blegon dan Koploh, dan Gembrut. Samitun sangat menyayangi tiga kambingnya seperti seorang ibu yang menyayangi anak kandungnya.

Samitun tidur satu ruang bersama kambingnya di sebuah rumah berdinding bambu yang sudah lapuk. Rumahnya berukuran sekitar tujuh meter kali sepuluh meter, berlantaikan tanah.

Tidak ada kasur, Samitun tidur di sebuah ranjang anyaman bambu dilapisi karung bekas. Di samping ranjang tempat tidurnya, terdapat tungku kayu tempat ia memasak.

Tak ada perabot selain lemari kayu yang sudah reyot dan kandang ayam. Di dalam rumahnya juga tidak ada lemari pakaian. Bajunya ia simpan di dalam karung bekas.

"Saya lebih suka hidup sendiri, bersama kambing-kambing saya," katanya.

Ia mengaku sudah lama hidup bersama kambingnya. Kambing itu diperoleh dari upah merawat kambing.

Dia sengaja memberi nama kambing-kambingnya. Alasannya agar kambingnya menurut saat ia panggil.

Samitun memperlakukan kambingnya seperti anaknya sendiri. Dia jarang mengikat kambing-kambjngnya selama berada di dalam rumah.

Kambingnya dibiarkan bebas berkeliaran di dalam rumah, hingga kotoran kambingnya berserakan di mana-mana. Bahkan, ranjang bambu tempat dia tidur juga dipenuhi kotoran kambing. "Kasihan kalau diikat," katanya.

Waktu itu, sekitar pukul 10.30, Samitun baru tiba di rumahnya. Ia baru saja pulang dari mencari rumput di hutan tak jauh dari rumahnya. "Habis cari rumput," katanya.

Setelah meletakan keranjang berisi rumput, ia masuk ke dalam rumahnya dan menyapa tiga ekor kambingnya.

"Sik, sabar nggih," katanya sambil membuka pintu rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu.

Blegon dan Koploh, tampak gembira melihat kedatangan majikannya. Begitu juga dengan Gembrut yang merupakan anak kambing perkawinan dari Blegon dan Koploh.

Samitun kemudian mengambil sebuah bungkusan plastik berisi ketela rebus yang digantung di paku di tiang penyangga rumah. Ia mengambil beberapa ubi rebus itu, lalu menyuapi kambingnya.

Hanya dalam waktu singkat, ubi rebus di tangannya sudah habis dimakan. " Empun telas nggih. Gek nyisih maneh. (Sudah habis ya, buat nanti lagi)," katanya.

Seperti manusia, kambingnya ia beri makan tiga kali dalam sehari, pagi, siang, dan malam hari.

Sehari-hari ia mencari kayu bakar untuk dijual. Satu ikat atau satu gendong kayu biasanya dia jual Rp 10 ribu.

Selain itu, ia juga mengumpulkan kotoran kambingnya untuk dijual. Satu karung kotoran kambing biasanya dihargai Rp 10 ribu.

"Itu sudah laku, sudah dibayar. Uangnya sudah dipakai buat beli makan," katanya sambil menunjuk karung putih berisi kotoran kambing.

Dikatakan Samitun, ia sangat menyayangi tiga ekor kambingnya. Sudah ada beberapa orang yang hendak membelinya, namun ia belum mau menjualnya.

Samitun mengaku banyak saudaranya yang menawarinya untuk pindah dan hidup bersama mereka. Termasuk adiknya Wagiyem (70) adik kandungnya yang rumahnya berdempetan dengan rumahnya.

Namun, ia menolak karena tidak ingin menganggu dan merepotkan. "Mereka kan sudah berkeluarga, punya keluarga sendiri," katanya.

Meski hidup pas-pasan, namun Samitun tak pernah mengeluh. Ia selalu bersyukur masih diberi umur panjang dan kesehatan.
Samitun, 86, hidup bersama tiga ekor kambingnya di rumah sederhana di RT 001/RW 003, Dusun Brangkal, Desa Biting, Kecamatan Badegan, Ponorogo, Jumat (21/4/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Di usianya yang sudah senja, ia masih bisa hidup mandiri dan mampu bekerja untuk menafkahi hidupnya sendiri. Ia tidak mau hidup bergantung dari bantuan orang lain.

Misiran (49) keponakan Samitun mengatakan, kakak kandung ibunya itu memang pekerja keras dan juga memiliki kepriadian yang keras.

"Mbokde saya memang wataknya keras, seperti orang jaman dahulu," kata ayah satu anak ini.

Ia menuturkan, sebelumnya Samitun sempat merantau, bekerja di Surabaya bersama suaminya. Namun, sejak suaminya meninggal, Samitun hidup sendiri di desa.

Misiran mengatakan, sebagai saudara terdekat ia pernah menawari Samitun agar tinggal serumah dengan keluarganya dan ibunya. Namun, Samitun memilih hidup bersama tiga ekor kambingnya.

"Kalau pas sehat tidak mau. Dia pilih tinggal sendiri," katanya.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal ban ini mengatakan, Samitun jarang sekali sakit meski tinggal bersama kambing.

Setiap pagi, usai bangun pagi Samitun mengumpulkan kotoran kambingnya. Kemudian, pergi ke hutan mencari rumput, kayu, dan juga kunir.

"Naluri dagangnya luar biasa. Apa saja yang bisa dijual, dijual," katanya.

Misiran mengatakan, Samitun tidak mau dipisahkan dengan kambingnya. Ia menuturkan, di samping rumah Samitun terdapat kandang kambing, namun Samitun enggan menaruh kambingnya di kandang.

Bahkan, Misiran mengaku sudah pernah mencoba untuk membuat sekat pembatas, agar tempat tidur Samitun dengan tempat kambing tidak jadi satu. Namun, Samitun menolak.

Dikatakan Misiran, tak jarang Samitun membelikan makanan untuk kambing-kambingnya. "Kadang dibelikan gorengan, pisang rebus, ubi,"katanya.

Selain mendapat penghasilan dari menjual kayu dan kunir, Samitun juga memiliki ladang yang dirawat keponakannya. Biasanya, setiap kali masa panen, Samitun mendapat bagian dari hasil ladang miliknya.

Sumber : suryamalang.tribunnews.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: