PACU TRAKTOR RAIH KAMBING

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BABADAN –  Unik dan kreatif. Begitulah cara kelompok tani (poktan) Kelurahan Kadipaten, Babadan, Ponorogo, mensyukuri hasil panen pertaniannya. Tumpengan memang wajib dan sudah tradisi. Mereka nenambahnya dengan lomba balap traktor dan menangkap ikan lele. Kegiatan tersebut digelar di sawah lingkungan Jurang Gandul desa setempat. ‘’Ini yang pertama kali,’’ kata Sugito, 50, ketua panitia, kemarin (18/4).

Tujuannya, selain untuk mewujudkan rasa syukur juga memotivasi para petani agar selalu guyub rukun. Lomba balap traktor dipilih lantaran hampir setiap petani bisa mengoperasikannya. Selain itu, juga melatih mereka agar lebih terampil menjalankan mesin pembajak sawah ini. ‘’Khususnya para petani yang masih muda atau pemula,’’ ungkapnya.

Lomba diikuti sekitar 32 peserta dari kelurahan setempat dan beberapa wilayah Ponorogo. Teknis lombanya sedehana, hanya adu cepat untuk mencapai garis finish satu lawan satu di arena lumpur persawahan. Panjang intasan sekitar 150 meter bolak balik. Meski cuaca cukup terik, para peserta antusias berlomba. ‘’Tidak dipungut biaya sama sekali,’’ tuturnya.

Hadiahnya, seekor kambing untuk juara pertama dan kedua. Selain itu, juga peralatan pertanian dan doorprize. Lomba ini juga kritik buat pemerintah daerah agar mau turun ke bawah memperhatikan kondisi petani. Pun sistem bantuan pertanian. ‘’Setiap ada bantuan, sepertinya tidak merata pembagiannya. Hanya kelompok tertentu saja yang dapat,’’ ungkapnya.

Lomba digelar sejak pukul 09.00 hingga selesai. Meski panas terik, mampu menyedot banyak penonton. Mereka memadati jalan di tengah sawah itu sejak pagi. Lomba menangkap ikan lele juga tak kalah seru. Panitia melepas sekitar 40 kilogram ikan lele di sawah. Peserta yang mendapat lele tebanyak juga mendapat hadiah hiburan. ‘’Harapannya bisa digelar secara rutin,’’ sebutnya.

Rudi Hartono, salah seorang peserta asal  Desa Ngabar, Siman, tertarik mengikuti lomba balap traktor karena penasaran. Meski, sebelumnya dia belum pernah mengikuti lomba serupa. Rudi yang juga berprofesi petani tidak banyak kesulitan. Sebab dia sering mengoperasikan traktor. ‘’Bedanya saat membajak sawah lebih santai, kalau lomba harus cepat-cepat,’’ ungkapnya.

Dia hanya kesulitan mengatur nafas karena faktor usia. Kendala lain ada pematang sawah yang harus dilewati. Di penyisihan dia berhasil mempecundangi lawannya yang lebih muda. Meski tidak juara tetap senang. Dia berharap bisa mengikuti lomba balap traktor lagi jika ada. ‘’Seru saja. Untuk hiburan,’’ terangnya.

Penonton tidak hanya dari kelurahan dan sekitarnya. Tapi juga beberapa wilayah Ponorogo. Nurhayati, salah seorang penonton asal Desa Nambangrejo, Sukorejo, penasaran dengan lomba itu. Dia mendapat info dari media sosial. Kemarin dia datang bersama anak dan teman-temannya. Meski bukan petani, dia cukup terhibur. ‘’Nggak rugi datang dari jauh dan berpanas-panasan,’’ ungkapnya. (tif/sat)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: