Relawan mulai tinggalkan lokasi bencana longsor Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PULUNG - Basarnas dan ratusan relawan yang datang dari berbagai daerah dan lintaskomunitas peduli mulai meninggalkan lokasi bencana tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo seiring dihentikannya upaya pencarian 24 korban yang masih hilang.
Kondisi sepi dan tidak ada aktifitas pencarian para korban bencana tanah longsor di Desa Banaran Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo. Secara beransur - ansur para relawan dan Tim SAR meninggalkan lokasi bencana dan menuju daerah Kabupaten Nganjuk yang juga terkena musibah longsor. Foto Heru

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ponorogo Setyo Budiono, Senin mengungkapkan seluruh personel Basarnas dari Jatim, Jateng maupun Jabar yang selama sepekan terakhir melakukan operasi pencarian di Banaran telah digeser menuju lokasi longsor di Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk.

Sementara untuk relawan, kata dia, sudah terlebih dahulu berangsur meninggalkan Banaran sejak Minggu (9/4).

"Sekarang ini relawan yang tersisa paling tinggal 200-an. Tidak banyak, tapi masih ada," katanya.

Ia memastikan tim tanggap darurat bencana BPBD Ponorogo bersama jaringan relawan daerah masih mampu mengendalikan kegiatan penanganan pascabencana.

Fokus BPBD sementara ini adalah menyelesaikan pembangunan dua hunian sementara untuk posko pengungsi yang telah mencapai 60 persen.

Sementara terkait penyaluran bantuan, Setyo Budiono memastikan logistik yang sebelumnya dikendalikan langsung oleh berbagai elemen komunitas peduli bencana Banaran telah disalurkan kepada masyarakat, atau sebagian dititipkan ke posko tanggap darurat bencana.

"Masih ada perwakilan relawan yang siap mengemban tugas lanjutan penanganan pascabencana," ujarnya.

Penanggulangan bencana tanah longsor di Ponorogo belum sepenuhnya tuntas. Sejak Pemkab Ponorogo memutuskan penghentian menyeluruh operasi pencarian, material longsor masih dibiarkan membentang mulai dari titik nol yang ada persis di bawah lereng Gunung Gede yang amblas dan menimbun 32 bangunan penduduk hingga radius 1,5 kilometer di sektor D.

Belum ada upaya penataan ataupun normalisasi dilakukan di sepanjang aliran sungai yang tertutup material lumpur yang volumenya diperkirakan mencapai 1 juta meter kubik tersebut.

Menurut Setyo, BPBD dan dinas terkait sementara masih melakukan pembiaran atas material lumpur yang sempat bergerak turun dalam volume besar dari titik sektor A hingga bawah sektor D yang berjarak lebih dari 1,5 kilometer dan mengenai dua rumah, menimbun satu unit alat berat, dan memutus akses jalan desa tersebut.

"Nanti akan dilakukan upaya normalisasi saat kondisinya sudah memungkinkan," katanya.

Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2017
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: