RSUD Hardjono Ponorogo dinilai Tidak Responsif dan Tidak Ramah

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KOTA – Pelayanan RSUD dr Harjono kembali dikeluhkan masyarakat. Kali ini datang dari pasien rawat inap di rumah sakit pelat merah tersebut. Di antaranya permintaan yang tidak segera direspons petugas jaga hingga sikap tidak ramah. ‘’Infusnya sudah macet sejak pukul 03.00. Sudah melapor (perawat) tapi tidak segera ditanggapi,’’ kata Mursid Hidayat, keluarga pasien asal Desa Ketro, Sawoo, kemarin (18/4).

Minarti, pasien sakit maag itu dirawat di ruang Eria sejak sepekan lalu. Mursid mendapat laporan dari anak bibinya itu. Petugas jaga tidak segera datang setelah dilapori. Bahkan, hingga melapor dua kali. Parahnya, jawaban yang didapat tidak mengenakkan. Petugas meminta bersabar hingga pergantian sif. ‘’Jadi baru ditangani setelah sif pagi sekitar pukul 07.00. Padahal, pasien mengeluh sakit karena infus macet,’’ tegasnya.

Mursid sengaja membuktikkan laporan sepupunya. Dia memperhatikan pelayanan perawat saat menjenguk bibinya, Jumat (14/4) lalu. Mursid datang sekitar pukul 09.00. Standar minimal pelayananinteraksi antara perawat dan pasien tidak ada. Perawat yang datang memeriksa infus sekadar melaksanakan pekerjaannya lantas berlalu. Senyum pun tidak. Apalagi, sapa dan salam. ‘’Tidak ada ramahnya sama sekali,’’ ujarnya.

Anggota DPRD Ponorogo ini hanya bisa mengelus dada. Apalagi, keluhan terkait pelayanan bukan sekali dua. Sudah seperti penyakit menahun. Dia bosan mengingatkan hal ini. Padahal dia kerap mengkritisi pelayanan ini sejak 2012 silam. Hasilnya nihil. Bukti lain keluhan yang masuk ke pengaduan pemkab. Pelayanan RSUD selalu menduduki tiga besar setiap tahun. ‘’Mendapatkan pelayanan yang ramah adalah salah satu hak pasien yang diatur dalam undang-undang. Bukan sekadar aturan lisan,’’ tegasnya.

Menurut Mursid, hak-hak pasien perlu kembali dipahamkan kepada setiap individu rumah sakit yang bersentuhan langsung dengan pasien. Bahkan, perlu tes kepribadian. Petugas yang dinilai belum memenuhi standar pelayanan dasar wajib mendapat pelatihan. Paling tidak petugas mau melakukan tegur sapa. Sebab, komunikasi dengan pasien itu bagian dari terapi penyembuhan.

‘’Pelayanan kesehatan merupakan cermin keberhasilan pemerintah selain pendidikan. Harus berani melakukan pembenahan secara menyeluruh kalau ingin membantu progam bupati dalam hal membenahi Ponorogo,’’ tukasnya sembari menduga buruknya pelayanan juga berkaitan dengan penerimaan jasa pelayanan.

Terpisah, Direktur RSUD dr Harjono Made Jeren mengatakan sudah melakukan pembinaan secara umum kepada petugas rumah sakit. Utamanya, kewajiban membangun komunikasi dengan pasien dan keluarganya.

Terkait temuan tersebut, Made menduga ada miskomunikasi. Dia berharap keluhan disampaikan langsung ke rumah sakit agar segera ditangani. Dapat disampaikan ke bagian humas atau melalui layanan pesan singkat. ‘’Kami berharap keluhan langsung disampaikan agar segera clear,’’ ujarnya. (agi/sat)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: