TANAH di DAYAKAN BADEGAN KIAN MEREKAH

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BADEGAN – Proses pencarian korban longsor di Desa Banaran, Pulung, resmi dihentikan, sejak Minggu (9/4). Kini, waspada bencana beralih ke Ponorogo sisi barat. Tanah gerak di Desa Dayakan, Badegan, semakin merekah. Retakan bertambah lebar 20 sentimeter. Warga Dusun Watuagung dan Kliyur pun kian gelisah. Sebab, terdengar suara gemuruh dan getaran sejak beberapa hari terkahir. ‘’Empat RT di Dusun Watuagung masuk zona merah (berbahaya). Warga harus mengungsi,’’ kata Kepala Desa Dayakan Kateno, kemarin (10/4).

Kondisinya sudah memprihatinkan. Rekahan bertambah di dinding dan lantai rumah. Lebarnya 50 sentimeter dengan kedalaman tiga meter di lantai rumah. Sedangkan halaman dan jalan semakin  ambles. Di titik puncak retakan, tanah sudah melorot dua meter. Retakan memanjang ke bawah sejauh dua kilometer lebih. Sepuluh hektare areal dibawahnya terancam. ‘’Malam kemarin terdengar lagi suara gemuruh. Bahkan, getarannya juga terasa 21 kali,’’ terangnya.

Menurut Kateno, pergerakan tanah kali pertama muncul pertengahan Februari lalu. Tanah di samping rumah warga lingkungan Salam dusun tersebut ambles 20 sentimeter. Pihaknya langsung menelusurinya. Belum terlalu panjang kala itu. Retakan ternyata juga ditemukan di titik puncak dan sudah ambles satu meter. Retakan kembali muncul tiga pekan setelahnya. Kali ini di lingkungan Ndoro. Sudah menjalar ke dalam rumah dan jalan. ‘’Warga mulai gelisah karena retakan terus bertambah setiap hari sampai sekarang,’’ jelasnya.

Warga di dua lingkungan itu akhirnya mengungsi mulai Jumat (31/3) lalu. Awalnya, hanya kala malam hari. Kini, 357 warga mengungsi siang malam. Pengungsian tersebar di tujuh titik. Menggunakan rumah warga, sekolah dan tenda darurat BPBD. Namun, sebaran tempat pengungsian itu menyulitkan pengawasan dan koordinasi. Rumah pengungsian cukup jauh dari kantor desa sebagai posko utama. ‘’Sudah kami imbau jadi satu di tenda BPBD agar pengawasan dan pengiriman logistik mudah tetapi mereka tidak mau,’’ ungkapnya.

Alasanya, mulai menjaga barang dagangan, mengelola ladang, ternak, dan orang tua. Bahkan, sejumlah warga pria tetap nekat kembali ke rumah kala pagi untuk memberi makan ternak. Mereka juga masih mencari rumput di areal terlarang. Rata-rata warga dusun tersebut memang memiliki hewan ternak, ayam, kambing, dan sapi.

Sedang, urusan ladang mereka menanam ubi jalar dan jagung. Ada yang memiliki orang tua namun tidak mau turun lantaran kasihan. Rumah-rumah pengungsian berjarak sekitar satu kilometer. ‘’Dirasa aman oleh warga, tetapi kami inginnya mereka tetap jadi satu di tenda BPBD yang jaraka sekitar enam kilometer. Jadi lebih aman,’’ harapnya.

Setiap hari pihaknya dibantu relawan mengirim makanan ke rumah-rumah pengungsian. Pengiriman menggunakan sepeda motor menempuh jarak enam kilometer. Pihaknya terus mengajak warganya untuk turun. Namun, sulit. Dia berharap tim ahli memeriksa lokasi dan mengeluarkan peringatan. Harapannya, warga lebih percaya dan sudi turun. ‘’Puluhan tahun silam pernah terjadi longsor disini tetapi tidak sebesar ini. Kami ingin ada rekom khusus agar warga percaya,’’ ujarnya.

Suasana panik terlihat dirumah-rumah wargaDusun Kliyur yang bersebelahan dengan Dusun Watuagung. Sikom, warga Dusun Kliyur terpaksa ditandu ke rumah anaknya. Nenek 75 tahun yang sudah lumpuh itu dipindah lantaran rumahnya dibibir sungai. Kendati cukup jauh dari retakan, material longsor berpotensi membanjiri sungai tersebut jika bencana terjadi. ‘’Hampir setiap malam terdengar suara gemuruh. Kasihan wong sudah tidak bisa berjalan. Bagaimana menyelamatkan diri,’’ kata Jumirah, salah seorang anaknya. (agi/sat)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: