Terobos Zona Merah, Kapolsek Pulung Geram

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BANARAN – Tanda larangan yang dipasang petugas di zona bahaya tanah longsor Desa Banaran, Pulung,disepelekan masyarakat. Mereka nekat menerobosnya. Padahal, di areal itu juga dipasang garis polisi. Tak pelak, membuat petugas naik pitam. ‘’Tidak lihat itu tanda larangan,’’ bentak Kapolsek Pulung AKP Deny Fahrudianto, kemarin (14/4).

Deny yang kebetulan disekitar lokasi langsung mengejar belasan anak muda yang menerobos zona larangan di sektor D itu. Semua diminta kembali. Para mahasiswa dari Surabaya itu langsung tertunduk malu lantas pergi.

Itu belum seberapa. Belasan pengendara motor trail juga nekat melintas tak lama berselang. Mereka para croser dari Trenggalek yang seakan sengaja menjadikan lokasi longsor sebagai sirkuit. ‘’Material yang menutup jalan dikeruk untuk jalur evakuasi eskavator. Tetapi harus ditutup setelahnya karena ada di zona merah,’’ jelasnya.

Ironisnya, jalur darurat itu malah jadi jalur pintas masyarakat yang datang kesana. Padahal, potensi longsor mengancam sewaktu-waktu. Sebab, material longsor di kanan kiri jalan cukup tinggi. Mencapai lima meter. Kondisi semakin mengkawatirkan lantaran cukup basah akibat tergerus air sungai. Longsor bisa saja terjadi dalam itungan detik. Sedangkan jalan darurat sulit dilalui lantaran licin. ‘’Jelas sulit menyelamatkan diri kalau longsor benar-benar terjadi,’’ kesalnya.

Pihaknya sudah memasang tanda larangan di delapan titik pintu masuk areal longsor. Mulai zona A hingga D. Zona A paling berbahaya. Materialnya, sekilas cukup kuat dipijak. Namun, basah di dalam. Sebab, air terus menggerus bagian bawah. Potensi pergerakan material tinggi. Tapi, masyarakat malah menyepelekannya. Masyarakat nekat masuk jika tidak ada petugas. ‘’Disini daerah bencana bukan tempat wisata. Kami imbau jangan untuk kesenangan pribadi,’’ ujarnya. (agi/sat)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: