Anak-Anak Banaran Tanam 1.000 Pohon Durian untuk Perkuat Tanah

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO — Sekitar 30 anak korban maupun terdampak tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, masih menjalani proses trauma healing yang dilakukan sejumlah sukarelawan, Minggu (21/5/2017). Mereka bermain berbagai permainan untuk menghilangkan rasa trauma dan takut terhadap bencana alam.
Sejumlah anak-anak di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, menenam bibit pohon durian di lokasi longsor, Minggu (21/5/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Setelah riang bermain bersama tim sukarelawan dari komunitas Ponorogo Bangkit. Selanjutnya, anak-anak ini diajak untuk mengambil bibit pohon durian yang telah disediakan sukarelawan.

Satu per satu anak membawa bibit pohon durian setinggi sekitar setengah meter dan membawanya ke lokasi tanah longsor. Mereka pun diajak para sukarelawan untuk menggali lubang yang akan digunakan untuk menanam bibit pohon itu.

Anak-anak itu terlihat bergembira dan penuh antusias saat menanam bibit pohon itu. Seakan mereka lupa bahwa tanah yang mereka injak, pada awal April lalu telah menenggelamkan perkampungan di Dukuh Tangkil, merusak 40 rumah, menewaskan 28 orang, dan merusak berbagai fasilitas umum serta membuat warga setempat trauma.

Namun, bencana alam itu juga dianggap sebagai koreksi terhadap tingkah manusia yang seenaknya merusak alam dan menggunduli hutan dan menjadikannya ladang pangan.

Wiliam Ardiansyah Putra, 10, salah satu anak dari Desa Banaran, terlihat antusias saat membuat lubang di tanah menggunakan sekop kecil yang diberikan sukarelawan. Ardian yang masih duduk di bangku kelas IV SD ini mengatakan penanaman bibit durian ini untuk mencegah terjadinya longsor.

Dia menyebut penghijauan di kawasan lokasi longsor maupun kawasan perbukitan di Desa Benaran perlu dilakukan. “Supaya tidak longsor seperti kemarin,” kata dia.

Struktur Tanah

Begitu juga yang dikatakan Lukman Hakim, 9. Dengan terbata-bata, ia menuturkan bahwa aksi penanaman pohon ini penting untuk mencegah tanah longsor.

Sekretaris Ponorogo Bangkit, Fendy Sukatmanto, yang ditemui di lokasi, menuturkan ada 1.000 bibit pohon durian yang disiapkan untuk ditanam di lokasi longsor mulai dari sektor A hingga sektor D. Penanaman bibit durian ini melibatkan anak-anak dan warga setempat. Dengan harapan, warga mulai mencintai alam dan tidak merusaknya.

Pemilihan pohon durian karena pohon ini memiliki akar yang cukup kuat dan sampai ke dalam, sehingga bisa memperkuat struktur tanah. Selain itu, buah durian juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga nantinya bisa bermanfaat bagi warga setempat.

“Tanah di Banaran ini sangat cocok untuk ditanami durian,” ujar dia.

Menurut Fendy, penyadaran cinta terhadap lingkungan ini sangat penting diajarkan mulai sejak usia dini. Untuk itu, ia mengajak anak-anak di desa itu untuk bersama-sama menanam pohon sebagai bentuk kecintaan terhadap lingkungan dan menjaga alam.

Seorang korban bencana tanah longsor, Misirah, 50, menuturkan memiliki ladang di lokasi longsor yang saat itu ditanami jahe. Dia menuturkan ladang tersebut sudah lama ditanami jahe. Ia pun tidak menyangka peralihan fungsi lahan tersebut bisa mengakibatkan tanah longsor.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Setyo Budiono, menuturkan hasil penelitian yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terhadap bencana tanah longsor di Desa Banaran itu terjadi lantaran berbagai sebab. Salah satunya yakni adanya perubahan fungsi lahan dari hutan pinus menjadi ladang.

Selain itu di bukit tersebut juga sangat kekurangan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang bisa berfungsi menahan lereng. Lokasi tersebut berada di zona lemah dan diperkirakan terdapat struktur patahan. Sehingga sebelumnya terjadi hujan deras dalam waktu cukup lama membuat tanah tersebut longsor.

“Adanya retakan-retakan pada tebing bagian atas beberapa pekan sebelum terjadi longsoran sehingga air hujan cepat masuk ke dalam tanah menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga bobot masa dan tekanan air pori tanah meningkat serta daya ikatnya menurun,” kata Budi yang membacakan hasil penelitian dari Badan Geologi.

Setelah dilakukan penelitian itu, PVMBG merekomendasikan untuk mengubah lahan bencana dan sekitarnya menjadi lahan perkebunan dengan tanaman keras yang berakar kuat dan dalam. Ini berfungsi untuk menahan lereng.

Reboisasi atau penghijauan lahan kritis di sekitar lokasi bencana dan tanah Perhutani perlu dilakukan. Selain itu, pemasangan alat peringatan dini atau alat pantau longsor juga perlu untuk mendeteksi gerakan tanah di lokasi tersebut.

Sumber : solopos.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: