Hoax! Beredar Kabar Ada 18 Korban Meninggal saat Kerusuhan Konvoi Pelajar SMA di Klaten

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KLATEN – Masyarakat diminta untuk berhati-hati dengan banyaknya kabar yang menyebutkan adanya korban meninggal dunia yang diakibatkan aksi gerombolan pelajar asal Sleman yang berkonvoi di Klaten.

Berdasarkan informasi yang diterima Tribun Jogja, kabar yang disebarkan dan menjadi viral melalui grup sebuah aplikasi chatting tersebut menyebutkan, "Inalillahi wa inna ilaihi rojiun ....terjadi tawuran lulusan SMU di klaten 18 meninggal yg luka2 blm tercatat ( klaten mencekam) fenomena apa ini."

Hal tersebut langsung dibantah pihak Polres Klaten, saat Tribun Jogja melakukan konfirmasi.

Wakapolres Klaten, Kompol Hari Sutanto menegaskan tidak ada korban meninggal dunia akibat aksi Selasa (2/5/2017) siang itu.

Diakuinya ada beberapa korban luka berat dan ringan dalam insiden tersebut namun tidak ada yang dilaporkan meninggal dunia.

“Kami mendapatkan informasi ada tiga siswa SMA di klaten yang terluka, itu pun belum melaporkan kejadian yang dialaminya. Yang jelas tidak ada korban meninggal dunia,” katanya, Rabu (3/5/2017).

Ia mengaku prihatin beredarnya kabar bohong yang menyebutkan ada belasan korban meninggal dunia akibat aksi ini. ironisnya informasi itu dibubuhi dengan gambar-gambar korban yang tidak jelas asalnya.

“Saya pastikan itu hoax. Gambar-gambar yang beredar itu setahu saya merupakan korban insiden di Bogor yang terjadi 2014 lalu. jadi tidak benar di Klaten sampai seperti itu,” ungkapnya.

Hal tersebut diamini Wakil Kepala SMAN 1 Klaten bidang Kesiswaan, Aris Sutaka. Dia mengakui adanya siswa yang menjadi korban dalam insiden itu, namun saat ini sudah mendapatkan perawatan intensif dan sedang pada tahap penyembuhan.

“Memang ada siswa kami yang kena sabet senjata tajam. Tapi kondisinya sudah membaik dan sedang menjalani rawat jalan,” ujarnya.

Ia menyayangkan adanya oknum yang tidak bertanggungjawab memperkeruh suasana dengan menyebarkan berita bohong. Kondisi tersebut membuat masyarakat, terutama orangtuan siswa menjadi khawatir.

“Orangtua menjadi waswas, padahal kondisi sebenarnya tidak ada masalah. Kegiatan belajar mengajar juga kembali normal dan siswa tetap masuk kecuali yang sedang dirawat,” kata dia. (*)

Sumber : tribunnews.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: