Keluarga Miskin di Ponorogo Ini Punya Anak-Anak Berprestasi

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO — Bagi sebagian orang kemiskinan menjadi penghalang untuk mendapatkan pendidikan dan ilmu. Namun, hal itu tidak berlaku bagi keluarga pasangan Iswandi, 60 dan Nur Hidayati, 38.

Keluarga Iswandi kukuh berjuang agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan tinggi. Penghasilan Iswandi yang pas-pasan dari pekerjaannya yang serabutan tak menjadi penghalang.

Warga RT 004/RW 002, Dusun Danyang, Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, ini hidup bersama istri dan tiga anaknya. Tiga anaknya bernama Miftahul Huda, 15, Lailatur Rohman, 11, dan Nurul Aisyah, 9. Dua dari tiga anaknya itu berprestasi dalam berbagai kompetisi.

Rumah Iswandi hanya berukuran 7 meter x 7 meter dengan tembok rumah hanya berupa anyaman bambu. Sebagian besar anyaman bambu itu telah usang dan sudah berusia belasan tahun.

Ketinggian rumah bagian teras hanya sekitar 1,5 meter, sehingga orang yang hendak masuk ke dalam rumah itu harus sedikit merunduk supaya tidak terbentur atap. Lantai rumah itu masih berupa tanah dan digelari tikar yang dimanfaatkan sebagai tempat duduk tamu dan saat malam digunakan untuk tidur.

Di rumah tersebut hanya ada satu sekat di tengah untuk memisahkan antara ruang untuk beribadah dan ruang tamu. Tumpukan pakaian pun terlihat di berbagai sudut rumah itu. Tidak ada meja maupun kursi di rumah tersebut.

Terlihat ada dua almari yang digunakan untuk menyimpan pakaian. Sajadah merah tergelar di dipan. Iswandi menuturkan rumah tersebut sejak berdiri pada 2004 hingga sekarang belum pernah diperbaiki. Dia tidak memiliki uang untuk merenovasi rumahnya.

Meski kondisi memprihatikan, Iswandi memiliki anak-anak berprestasi. Bahkan, salah satu anak itu menjadi wakil Kabupaten Ponorogo di ajang lomba pantomim tingkat Provinsi Jawa Timur.

Dia menuturkan dua anaknya, Mifatul Huda dan Lailatur Rohman, beberapa kali menyabet juara di tingkat kecamatan dan kabupaten. Mifatul Huda yang saat ini duduk di Kelas VIII MTs Ar Rohman, Desa Tegalrejo, Kecamatan Semen, Kabupaten Magetan, beberapa kali menyabet juara lomba debat bahasa Inggris dan bahasa Arab.

“Anak saya yang pertama yaitu Miftahul Huda sering menjadi juara di bidang bahasa Arab dan bahasa Inggris,” kata dia kepada Madiunpos.com, Minggu (30/4/2017).

Iswandi menyebutkan prestasi Huda selama ini antara lain menjadi juara 1 pidato bahasa Arab mewakili sekolahannya di Madiun pada 2017. Kemudian menjadi juara III lomba pidato bahasa Inggris di Madiun pada 2017.

Salah satu peserta dalam tim drumben sekolah yang menjadi juara I di kompetisi drumben tingkat karesidenan Madiun dan akan mewakili sekolahnya di tingkat provinsi. Sedangkan anak keduanya yaitu Lailatur Rohman yang duduk di Kelas IV SDN 2 Sukosari berprestasi di bidang pantomim.

Pada 2017 ini, Rohman menjadi juara pertama di kompetisi pantomim tingkat Kabupaten Ponorogo. “Sebelum ikut di tingkat kabupaten, terlebih dahulu ia mengikuti kompetisi di tingkat Kecamatan Babadan dan menjadi juara,” kata Rohman.

Rohman menceritakan awalnya ia iseng mengikuti kegiatan pantomim di sekolah dan dilatih guru. Oleh guru, Rohman dianggap berbakat dalam berpantomim sehingga latihan mulai diintensifkan untuk mengikuti kompetisi.

Atas prestasi yang diraih kedua anaknya itu, Iswandi mengaku sangat bangga dan senang. Prestasi itu juga membuat keduanya mendapat beasiswa di sekolah masing-masing.

Bahkan, Huda juga mendapatkan beasiswa dari pondok pesantren di tempatnya tinggal dan mencari ilmu agama.“Saat ini Huda masih di pondok, ia jarang pulang karena memang kegiatan di pondok sangat padat,” ujar dia.

Lebih lanjut, meski dalam keterbatasan, ia berharap kedua anaknya bisa menjadi orang berilmu yang bermanfaat. Baik Iswandi maupun Nur Hidayati mencari uang untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga pendidikan tinggi.

Iswandi hanya bekerja sebagai tukang pijit dan pencari rumput, sedangkan istrinya bekerja sebagai pelayan di warung makan di desanya dengan upah Rp40.000 per hari. Penghasilan Iswandi tidak menentu, karena tidak banyak orang menggunakan jasanya. “Saya juga tidak menetapkan tarif, biasanya orang kasih Rp30.000 sampai Rp40.000,” ujar dia.

Selama ini, penghasilannya habis untuk makan dan membeli kebutuhan sekolah anak-anaknya. Khusus Huda, setiap pekan biasanya diberi uang Rp30.000 untuk makan di pondok dan uang saku sekolah.

Sebenarnya, ia hendak memperbaiki rumahnya yang sudah hampir roboh itu. Namun, karena kondisi keuangan yang memang belum memungkinkan dan kebutuhan bagi anak-anaknya masih tinggi sehingga ia mengurungkan niatnya itu.

“Saya belum punya uang sama sekali untuk memperbaiki rumah. Kalau ada waktu senggang biasanya saya mencari pasir di sungai, pasir ini tidak untuk dijual, tetapi sebagai celengan untuk membangun rumah,” terang dia.

Iswandi menuturkan soal pendidikan memang menjadi bagian penting yang terus ditanamkan kepada anak-anaknya. Meskipun perekonomian sedang sulit, pendidikan bagi anak harus jalan.

Berikut Video Kondisi Rumahnya :
Sumber : madiunpos.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: