Kerap Dianiaya dan Diancam Akan Dibunuh, Dua Calon TKW Kabur dari Penampungan

Sponsored Ad

Sponsored Ad
SONGGOLANGIT.NET - Belum jadi tenaga kerja Indonesia (TKI) sudah mendapat siksaan. Itulah yang terjadi pada dua perempuan yang berada di penampungan perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang diduga ilegal, diKecamatan Tanlun Kabupaten Blitar. Dua penghuninya pun akhirnya nekat kabur dari penampungan. Penampungan TKI itu terletak di Dusun Kembangarum, Desa Wonorejo, Kecamatan Talun.
TRAUMA: Sumiati (berbaring) bersama Sunarsih ketika dirawat di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi pasca kabur dari penampungan, Rabu (3/5) (MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/JAWA POS RADAR BLITAR)

Adalah Sumiati, 36, warga Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Tuban dan Sunarsih, 45 warga Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo calon Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang menjadi korban kekerasan. Dua calon TKW itu akhirnya berhasil kabur dari penampungan (PJTKI) itu. Mirisnya Sumiati dalam kondisi hamil saat ini. Diperkirakan usia kehamilannya sudah empat bulan. Dia kabur dari lantai dua penampungan bersama Sunarsih. Itu dilakukan karena sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit akibat tindak kekerasan dan ancaman. Kini, Sumiati sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo, Wlingi. Dia didampingi Sunarsih.

Kasus kaburnya dua perempuan calon TKW yang rencananya diberangkatkan ke Singapura itu masih diselidiki Polisi. Itu setelah keduanya dibantu dengan warga setempat melaporkan kejadian itu ke Polsek Talun, Selasa (2/5) lalu. “Ya, memang ada dua calon TKW itu datang bersama beberapa warga melaporkan kejadian kekerasan ke kami. Lalu, kami tindaklanjuti,” jelas Kapolsek Talun AKP Subondo, kepada Jawa Pos Radar Blitar, Rabu (3/5).

Saat ini, polisi masih menyelidiki dan mendalami kasus tersebut.  Dari hasil penyelidikan dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) polisi telah mengamankan SA, 40. Perempuan yang tinggal di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun itu kini sedang menjalani serangkaian pemeriksaan di Mapolsek Talun. Selain SA, polisi juga mengamankan B, 54, yang merupakan suami dari SA. Mereka diduga pemilik penampungan sekaligus penyalur calon TKW tersebut. “Saat ini sedang kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada mereka. Kami juga sudah ke TKP dan masih ada tiga calon TKI di sana,” ungkap Subondo.

Tiga calon TKI tersebut akhirnya dipulangkan demi keamanan dan keselamatan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh polisi dari korban, lanjut dia, kaburnya dua calon TKW, itu diduga karena adanya tindak kekerasan yang dilakukan kru PJTKI di penampungan. Bukan hanya kekerasan, tapi juga mendapat ancaman dan intimidasi. “Memang, pengakuan dari mereka (korban) ada intimidasi juga. Karena tidak kuat mereka kabur,” terang perwira berpangkat tiga balok di pundak itu.

Menurut informasi, mereka sudah dua bulan tinggal di penampungan PJTKI tersebut. Dijanjikan oleh PJTKI akan diberangkat ke Singapura dengan proses cepat. Rencananya akan diberangkatkan pada Kamis (4/5) besok. Selain itu, mereka juga mendapat uang saku sebesar Rp 2,5 juta dari PJTKI tersebut. Kronologi kaburnya dua calon TKW tersebut berawal dari ketidak kerasannya tinggal di penampungan. Sebab sudah sekitar dua bulan tinggal di penampungan dengan cara yang tidak manusiawi.

Selama tinggal di penampungan itu, tak jarang mendapat kekerasan dan intimidasi dari kru PJTKI. “Mulai ditendang dan dintimidasi bakal dihabisi juga. Saya dikurung dan dikunci dari dalam. Ada orang yang jaga di sana,” ungkap Sumiati ditemui koran ini di rumah sakit, Rabu (3/5). Dia yang saat ini sedang dirawat di ruang Ponek RSUD Ngudi Waluyo itu menceritakan, perlakuan kasar itu terjadi setelah dirinya merasa tidak kerasan lagi karena sudah dua bulan tinggal di penampungan. Padahal, dia dijanjikan dua minggu sudah bisa berangkat. “Saya dapat informasi teman waktu itu di Surabaya bahwa ada PJTKI yang dengan waktu dua minggu sudah bisa berangkat ke luar negeri,” terangnya yang masih terbaring lemah di atas kasur itu.

Padahal, menurut dia pengurusan menjadi seorang TKI itu panjang. Untuk mengurus paspor saja membutuhkan waktu lebih dari dua minggu. Saat itulah dia berpikir dan merasa ada yang aneh. “Saya sempat ngomong ke mereka (PJTKI) tentang status PJTKI ini. Saya juga tanya apa nama PJTKI ini. Tapi, ,mereka malah marah,” ungkapnya.

Tak hanya marah, PJTKI ini juga mengancam Sumiati. “Sempat diancam mau dibunuh,” imbuh ibu satu anak tetsebut. Dari perlakuan tak manusiawi itulah dia dan Sunarsih memutuskan untuk kabur pada dini hari. Pada Selasa (2/5) itulah mereka memiliki kesempatan kabur. Mereka melompat dari lantai dua rumah penampungan itu. Bingung dan panik, lantas menuju rumah warga setempat. Warga pun akhirnya menyelamatkan. Saat itu, dua warga yang dimintai tolong  mereka langsung mengantarkannya ke rumah salah seorang anggota Polsek Talun. “Mereka diantar juga kerumah saya. Mereka mengatakan kepada saya kalau sedang mendapat kekerasan,” kata Hadi Sartono, ketua RW setempat ditemui di Polsek usai menjalani pemeriksaan, Rabu (3/5).

Akhirnya, Hadi melaporkan kejadian itu ke Polsek Talun. Polisi langsung menuju TKP dan menjemput dua calon TKW itu ke rumah warga. Yang selanjutnya di bawa ke RSUD Ngudi Waluyo. “Saya selama ini tidak mengetahui pasti jika ternyata rumah itu merupakan tempat penampungan calon TKI. Padahal, saya sering melewatinya dan terlihat tak ada aktivitas sama sekali,” tandas pria 59 tahun itu. (sub/ziz/JPG)

Sumber : jawapos.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: