Lepas Banjir dan Longsor, Gilaran Kekeringan Mengancam Magetan

Sponsored Ad

Sponsored Ad
MAGETAN – BMKG Juanda Surabaya memprediksi bulan Juni mendatang mulai memasuki musim kemarau. Kondisi ini langsung direspon BPBD Magetan yang mulai mengantisipasi terjadinya kekeringan.
Sejumlah sungai di wilayah Kecamatan Parang, magetan mulai mengering. Andi Chorniawan/Radar Magetan

''Kami menyiapkan 10 tangki air,’’ ujar Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Fery Yoga Saputra, Selaasa (23/5).

Fery menjelaskan, air sebanyak 10 tangki yang mampu menampung air sampai 2.200 liter itu bakal di-dropping ke wilayah yang mengalami kekeringan. Khususnya yang kesulitan menjangkau air bersih. Kemudian dipasok setiap hari atau sesuai permintaan warga setempat.

‘’Tergantung kebutuhannya. Kalau satu tangki itu bisa untuk dua hari, kami akan mengirimkan air dua hari sekali,’’ katanya.

Dia menambahkan, 10 tangki yang dianggarkan dari APBD itu sebagai pendukung. Pada 2014 lalu pihaknya sudah mengalokasikan 15 tangki ke dua kecamatan rawan kekeringan, yakni Parang dan Ngariboyo.

Belasan tangki hibah Pemprov Jatim tersebut sebagai tandon air mengantisipasi kekeringan saat musim kemarau tiba.

''Kami pasok air jika dibutuhkan sewaktu-waktu. Tapi untuk saat ini belum ada perintah mengisi air tangki karena ada dampak kekeringan,’’ jelasnya.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Maksum menambahkan, ada 11 kecamatan di Magetan yang rawan kekeringan. Jumlah itu terbagi menjadi tiga klasifikasi berdasar tingkat keparahannya.

Perinciannya, untuk kategori parah adalah wilayah Parang. Kategori sedang Kawedanan, Bendo, Sukomoro, Lembeyan, dan Karas. Sementara, Plaosan, Panekan, Sidorejo, Ngariboyo, dan Magetan Kota masuk kategori biasa.


‘’Pengkategorian parah itu karena kekeringannya sampai ke lahan pertanian, dampaknya sangat luas, dan dalam jangka waktu yang panjang. Kalau kategori sedang dan biasa itu hanya beberapa RT saja yang terdampak,’’ paparnya kepada Jawa Pos Radar Magetan.

Maksum menambahkan, wilayah paling rawan kekeringan di Parang di antaranya Desa Nglopang, Ngaglik, dan Trosono. Sebab, kondisi geografisnya gersang dan tidak ada sumber air di bawah tanah.

''Jadi, petani di sana kebanyakan menanam palawija,'' ungkapnya.

Dia menyebut, saat ini menjelang berakhirnya musim penghujan. Hal itu ditandai hujan sesekali masih turun meski dengan intensitas minim. Pun sejumlah aliran sungai di sejumlah wilayah mulai tidak berair.

‘’Selain pasokan air kekeringan yang menyasar lahan pertanian, kami juga fokuskan di wilayah yang belum terjangkau air PDAM,’’ jelasnya. (cor/isd/jprm)

Sumber : jawapos.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: