Mengenang Sebulan Longsor Banaran, Menerawang Masa Depan Korban

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PULUNG — Bencana tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, sudah satu bulan berlalu. Para korban selamat sudah mulai menjalani kehidupan seperti biasanya, meski belum bisa pulih sepenuhnya.

Kehidupan di Desa Banaran sudah mulai bangkit dari keterpurukan akibat bencana alam yang terjadi pada Sabtu (1/4/2017) pagi itu. Sejak itu, aktivitas perekonomian, pertanian, pendidikan, semuanya terhenti. Namun, kini baik korban maupun warga desa itu sudah kembali beraktivitas.

Pantauan Madiunpos.com di Desa Banaran, Minggu (30/4/2017), desa tersebut cukup lengang dibandingkan beberapa pekan lalu. Tidak banyak lalu lalang kendaraan bermotor di lokasi bencana. Padahal, sebelumnya lalu lintas di desa tersebut cukup padat mulai dari kendaraan pengangkut sukarelawan, bantuan logistik, warga yang berkunjung, dan lainnya.

Sukarelawan di lokasi bencana juga tidak sebanyak saat awal-awal peristiwa yang menewaskan 28 orang itu terjadi. Terlihat masih ada sekitar 30 sukarelawan dari berbagai organisasi di lokasi itu untuk mendampingi dan memulihkan trauma korban.

Spanduk-spanduk dari berbagai lembaga juga sudah banyak yang dicopot, meski masih ada beberapa spanduk dan umbul-umbul yang terpasang di desa tersebut. Pengunjung yang datang ke lokasi itu juga sudah semakin berkurang dan terlihat hanya beberapa orang yang datang melihat kondisi tanah longsor itu lalu pulang.

Padahal, sebelumnya petugas sempat kewalahan menghalau ratusan orang yang datang melihat ke lokasi bencana. Saat itu sempat diberlakukan larangan kendaraan bermotor pengunjung masuk ke lokasi.

Di rumah relokasi sementara di Dusun Tangkil, warga telah beraktivitas di rumah masing-masing. Masing-masing keluarga diberi satu ruangan sebagai tempat tinggal sementara hingga hunian tetap bagi mereka rampung dibangun.

Seorang korban selamat, Saerah, 45, mengaku sudah sedikit bangkit dari perasaan takut dan kesedihan. Ia kehilangan suaminya, Katemun, 50, yang saat itu sedang memanen jahe di ladang.

Tidak hanya kehilangan suami tercintanya, seluruh harta benda miliknya juga lenyap tertimbun tanah dalam sekejap. “Saya sudah ikhlas. Tetapi, terkadang saya masih sedih kalau ingat kejadian itu,” kenang dia di rumah relokasi sementara.

Bencana alam yang membuat kampung halamannya itu lenyap dalam sekejap itu telah membuat kehidupannya berubah. Banyak kenangan-kenangan indah di kampung itu yang terkubur dan tidak akan pernah terulang lagi.

Mata pencahariannya sebagai petani jahe juga akhirnya ikut terkubur karena sebagian besar ladangnya rusak dan tertutup material longsoran. Bulan lalu hingga bulan depan, dimungkinkan hidupnya masih bergantung pada bantuan dari donatur yang saat ini menumpuk di rumah.

Kehidupan terus berjalan dan terus berjalan. Saerah pun mengaku belum mengetahui kelanjutan hidupnya setelah bantuan tersebut habis dan belum mendapat pekerjaan. Dia juga mengaku belum ada rencana mendirikan usaha atau mencari pekerjaan setelah semua ini terjadi.

“Ladang saya sebagian besar habis diterjang longsor. Saya dulu juga punya 17 ekor kambing, semuanya mati. Saya belum tahu mau bekerja apa setelah ini,” jelas dia.

Hal senada juga dikatakan korban selamat lainnya, Sogol Purnomo, 29. Bagi dia, saat ini yang terpenting yaitu menjalani hidup dan menghilangkan trauma.

Dia mengaku belum ada rencana untuk bekerja atau melanjutkan bertani. Kehidupannya bersama istri dan anaknya hanya bergantung pada bantuan logistik dari pemerintah dan donatur.

“Saya belum ada rencana untuk masa depan. Saat ini, hanya bergantung pada bantuan di posko,” ungkap dia.

Sedangkan bagi korban selamat lain, Jeminem, 60, ingin menghabiskan sisa hidupnya tinggal di tanah leluhurnya itu. Bagi dia, kehidupan di bulan-bulan ke depan mungkin akan lebih sulit karena ladang penghasilannya sudah tidak ada.

“Sekarang kegiatannya memasak, makan, nonton televisi, mau bertani juga ladangnya tidak ada,” ujar dia.

Sumber : solopos.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: