Suka Memaksa, 5 Pengamen di Ponorogo Dihukum Push Up hingga Hormat Bendera

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO - Bukannya kreatif dalam bermain musik, sejumlah pengamen di kabupaten Ponorogo kerap dituding berlaku tidak pantas kepada para pengguna jalan. Akibatnya, mereka harus menjalani pembinaan di halaman polres setempat.

Ini buntut banyaknya laporan pendara kendaraan bermotor yang merasa resah dengan keberadaan pengamen di jalanan. Terlebih sejumlah pengamen ada yang meludahi kendaraan karena tidak diberi uang.
Sejumlah pengamen yang terjaring razia lantaran kerap meresahkan warga menjalani pembinaan di halaman Polres Ponorogo, Senin (8/5)

Menyikapi laporan tersebut, Polres Ponorogo bersama dengan Satpol PP menggelar razia di terminal bus, persimpangan lampu merah Sukowati hingga perempatan Pasar Songgolangit.  Hasilnya, lima pengamen diamankan.

‘’Ada laporan masuk, mereka tidak hanya mengamen tetapi juga berkata kotor,’’ kata Kasat Sabhara Polres Ponorogo AKP Hariyanto, Senin (8/5).

Setelah dilakukaan pendataan oleh Satpol PP, pengamen yang terjaring razia diserahkan ke Polres Ponorogo. Untuk memberikan efek jera, petugas Polres Ponorogo mengajari mereka bersikap hormat. Pertama - tama hormat kepada bendara merah putih.

 ‘’Kami beri hukuman tambahan agar jera. Mereka ini muka-muka lama,’’ ujarnya.

Mereka diminta lari mengelilingi halaman mapolres juga push-up.  Salah seorang anggota Hariyanto mengeluarkan gunting dan sisir. Satu per satu rambut mereka dipotong agar rapi. Alhasil, Kesan sangar dengan tubuh bertato para pengamen pun hilang.

‘’Sebagian besar dari Ponorogo. Tetapi ada juga yang dari Madiun,’’ ungkapnya.

Sugeng Riyanto, salah seorang pengamen membantah jika dianggap meresahkan masyarakat. Dia menggeleng tidak tahu saat ditanya soal peludahan dan perkataan kotor tersebut.

‘’Bukan saya. Saya tidak pernah seperti itu. Pengamen lain kan banyak,’’ kilahnya sembari menyebut sudah terjaring kali ketiga.

Menurut dia, pengamen di perempatan jalan cukup banyak. Dia menuding pengamen lain yang melakukan. Dia berdalih lebih sering mengamen di perumahan.

Remaja asal Ngrayun itu mengaku mengamen lantaran tidak memiliki pekerjaan. Sementara penghasilannya dari mengamen cukup besar. Rata-rata mencapai Rp 50 ribu sehari. (agi/sat/jprm)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: