Sumarjoko Jalani ‘Ospek’ Sepekan di Blok Penaling

Sponsored Ad

Sponsored Ad
MAGETAN – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Daerah (Bappeda Litbang) Magetan Sumarjoko resmi menjadi penghuni Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Magetan sejak Rabu lalu (10/5).

Tersangka kasus tindak pidana korupsi (tipikor) pengadaan sepatu PNS pada 2014 itu saat ini masih menempati blok masa pengenalan lingkungan (mapenaling) selama sepekan.

‘’Kondisinya baik-baik saja. Setelah lewat tujuh hari akan kami pindahkan ke blok lain,’’ ujar Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan Kelas II B Deri Prihandoko, kemarin (14/5).

Deri menyatakan tidak ada perbedaan perlakuan antara tahanan sekelas kepala dinas dengan warga sipil. Pun jenis tindak pidana yang membelitnya, semua diperlakukan sama. Petugas sudah memberikan penjelasan tentang hak dan kewajiban Sumarjoko selama berada di rutan.

‘’Karena statusnya tahanan baru, sebagai bentuk masa orientasinya selama tujuh hari itu tidak boleh dijenguk siapa pun,’’ tuturnya.

Sumarjoko berada di blok mapenaling bercampur dengan warga binaan dari berbagai kasus. Mulai judi toto gelap (togel), pencurian, hingga narkoba.

Blok mapenaling terdiri dua kamar. Masing-masing seluas 3x4 meter dan diisi 10-11 orang. Sumarjoko berada di kamar satu yang fasilitasnya hanya karpet sebagai alas tidur.

Selain mapenaling, ada lima blok lain yang ukuran kamarnya jauh lebih besar. Petugas perlu mempertimbangkan blok yang belum terisi penuh.

‘’Pada saat itu dia baru boleh dijenguk,’’ jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magetan.

Deri mengungkapkan, berdasar penyampaian pihak kejaksaan negeri (kejari), Sumarjoko akan ditahan sampai 20 hari sejak penahanan. Namun, jangka waktu tersebut bisa diperpanjang seiring berjalannya proses hukum yang membelitnya.

‘’Dilihat saja bagaimana perkembangannya nanti,’’ kata pria asal Purwokerto, Jawa Tengah, itu.

Seperti diketahui, Sumarjoko ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan tipikor pengadaan sepatu PNS dengan nilai anggaran Rp 1,2 miliar pada 2014 silam. Sumarjoko diduga melakukan perbuatan dengan tujuan memperkaya diri sendiri atau orang lain.

Selain itu, menyalahgunakan kewenangan dan kesempatan atas jabatan yang diemban. Dalam waktu dekat, Sumarjoko juga bakal diberhentikan sementara atau dinonaktifkan sebagai kepala satker.

Sumarjoko dianggap melanggar disiplin PNS, karena tidak bisa melaksanakan tugasnya sehari-hari. Sementara, posisinya akan diisi pelaksana harian (Plh). (cor/isd/jprm)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: