Tersangka Penyekap 2 CTKW Tak Kantongi Izin

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Blitar – Siti Aminatun (42) pelaku penyekapan dan penganiayaan 2 Calon Tenaga Kerja Wanita (CTKW) di Dusun Kembangarum Desa Wonorejo Kecamatan Talun Kabupaten Blitar, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Ia pun mengakui jika penampungan CTKW yang ia kelola memang tidak memiliki izin resmi dari pemerintah. Dikatakan Siti Aminatun, selama ini, dirinya mendapatkan keuntungan sebesar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta dari agen penyalur pembantu rumah tangga di Singapura untuk satu TKW yang diberangkatkan.

“Memang itu kesalahan saya karena penampungan saya tidak memiliki izin, sejak tahun 2015 waktu saya kenal sama agen yang di Singapura,” kata Siti Aminatun, Jumat (5/5/2017). Siti Aminatun pun juga tidak membantah, jika ia pernah melakukan pemukulan terhadap calon TKW yang ada di penampungan miliknya. Namun menurutnya, tindakan pemukulan itu tidak dilakukan tanpa alasan. Siti mengaku memukul Sumiati salah satu CTKW yang ada di penampunganya, karena berusaha menggugurkan kandungannya.

“Ya memang pernah saya tampar karena dia dengan sengaja ingin menggugurkan kandunganya, dengan meminum air yang dicampur lada bubuk. Karena kan sebelumnya dia tidak ngaku kalau sedang hamil,” ungkap Siti Aminatun. Sedangkan terkait dengan tuduhan penyekapan, ia mengaku, jika dirinya tidak pernah menyekap ke dua calon TKW tersebut. Menurut Siti, ia memang sengaja tidak mengizinkan keduanya untuk keluar masuk penampungan, karena selama ini ia menduga hanya dimanfaatkannya agar mendapat uang saku.

“Saya minta dia tetap di rumah saya,agar uang saku yang sudah saya berikan dikembalikan dulu, sebelum dia keluar dari penampungan. Karena kan bagaimanapun juga dia tidak bisa berangkat lantaran kondisinya sedang hamil,” terangnya.

Sementara itu, Kapolres Blitar, AKBP Slamet Waloya mengatakan, modus yang dilakukan tersangka adalah dengan bekerja sama denga agen TKI di Singapura. Untuk mengirimkan TKW tanpa melalui Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) resmi, tersangka hanya dengan menggunakan paspor calon TKW. Slamet Waloya juga memastikan jika proses perekrutan dan pemberangkatan TKW yang dilakukan Siti Aminatun dipastikan ilegal, karena tidak sesuai dengan prosedur.

“Modus yang dijalankan pelaku adalah dengan merekrut calon TKW tanpa melalui PJTKI resmi, dengan iming-iming bakal segera diberangkatkan tanpa harus melewati prosedur yang rumit,” kata Slamet Waloya. Dia menambahkan, hingga saat ini, penyidik masih mendalami kasus tersebut. Termasuk apakah ada pelaku lain yang membantu Siti Aminatun. Serta dugaan adanya PJTKI lain yang terlibat. Jika terbukti bersalah pelaku bakal dijerat dengan pasal 102 undang-undang RI nomor 39 tahun 2004 tentang penempatan TKI tanpa izin resmi.

“Sesuai dengan pasal 102, maka tersangka terancam hukuman minimal 2 tahun dan maksimal 10 tahun penjara. Atau denda paling sedikit Rp 2 miliar dan maksimal Rp 15 miliar,” tandasnya. Diberitakan sebelumnya, 2 CTKW kabur Rabu (3/5) dini hari. Mereka mengaku kabur karena kerap disiksa dengan dipukul dan disekap di kamar. Korban adalah, Sumiati (36) warga Desa Sugihan Kecamatan Jati Kabupaten Tuban dan Sunarsih (45) warga Desa Wates Laung Kecamatan Slaung Kabupaten Ponorogo. (fjr)

Sumber : memo-x.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: