TKI di Hongkong dan Taiwan Paling Demen Pesan Bantal Kado

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Menggunting dan menjahit, maka jadilah bantal, guling, taplak, sajadah, dan tempat tisu. Ferdiana Timor Januita melewati hari-harinya dengan melayani pesanan beragam hasil kerajinan tangan itu. Pesanan datang dari sejumlah kota di Indonesia. Tenaga kerja Indonesia (TKI) di Hongkong dan Taiwan belakangan masuk daftar pemesan.

DENI KURNIAWAN, Madiun

RUANG tamu di rumah Ferdiana Timor Januita layaknya toko peralatan rumah tangga.  Ada bantal dan guling dengan corak warna-warni. Sebagian berhiaskan nama pemesan yang ditulis dari potongan kain. Taplak dan sajadah juga menumpuk. Sajadah itu tampak lebih tebal lantaran di tengah-tengahnya terselip busa. Sebagian barang-barang sudah dikemas rapi pertanda siap kirim.

Nyonya rumah tengah sibuk memotong lembaran kain. Bergulung-gulung benang dengan jarum yang masih menancap tergeletak di sampingnya. Keseharian Ferdiana memang seperti itu. Warga Jalan Tawang Sakti, Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, ini menekuni kerajinan bantal kado di sela-sela kesibukan mengurus rumah tangga.

‘’Sekarang juga membuat taplak dan sajadah,’’ kata Ferdiana.

Awal-awal menekuni usaha kriya, dia hanya memproduksi bantal kado. Ferdiana  memilih isi dakron (kapas sintesis) agar bantal kreasinya awet mengembang. Lapak di Jalan Serayu, Kota Madiun, disewanya untuk memajang barang dagangan. Hanya membuka lapak setiap hari Minggu, dagangan Ferdiana lumayan laris. Bantal itu beda dengan kebanyakan lantaran terbungkus rasfur (kain dengan bulu-bulu halus).

‘’Saya tidak pandai merajut sehingga pilihan jatuh ke bantal,’’ akunya.

Bantal kado buatan perempuan 27 tahun itu tanpa ramai hiasan. Ferdiana hanya mengandalkan warna rasfur yang menarik. Permukaan bantal yang halus juga ikut menggoda calon pembeli. Bersamaan usahanya mulai berkembang dua tahun lalu, Ferdiana mengandung anak pertamanya. Dia sengaja menutup lapak. Namun, produksi bantal tidak berhenti kendati perutnya terus membuncit. ‘’Saya promosi lewat medsos,’’ ujar istri dari Hengky Muhartanto itu.

Pun, pesanan terus mengalir untuk bantal yang dibanderol Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu itu. Ferdiana sempat menduga rezekinya sedang dibawa anak sulung di dalam kandungan. Sebab, dia sebelumnya tidak berjodoh saat membuka jasa les untuk pelajar SD dan SMP. Kejenuhan menerpanya saat peserta les sepi. ‘’Saya coba cari kesibukan lain, kulakan rasfur dari Bandung,’’ ungkap Ferdiana.

Semakin tua umur kandungan Ferdiana, kian banyak pula pesanan datang. Bahkan, pesanan tidak berhenti di bantal. Pernik-pernik yang biasa berada di kamar dan ruang tamu juga dipesan. Mulai taplak lengkap dengan tempat tisu hingga sajadah bermotif kartun khusus anak-anak. Tak kuasa menolak dan mengecewakan pemesan, Ferdiana meminta bantuan tenaga dari tetangga sekitar.

‘’Dulu dibantu seorang pelajar SMA samping rumah,’’ ingatnya.

Selama hamil tua, Ferdiana tidak lagi membuat pola, memotong, menjahit, dan menyumpalkan dakron. Dia berani mengaryakan dua tenaga kerja tambahan yang datang setiap sore. Tugas Ferdiana sebatas memotong kain berbentuk huruf jika ada pemesan menginginkan namanya diterakan.

‘’Tiap huruf tambah seribu,’’ hitungnya.

Ferdiana mengklaim bantal kado dan kerajinan buatannya sudah menyebar di sejumlah kota besar di Jawa maupun luar pulau. Ada pesanan  datang dari ujung batas Indonesia, yakni Sorong dan Merauke. Selain itu, tenaga kerja Indonesia di Hongkong dan Taiwan masuk dalam antrean pemesan bantal kado.

‘’Sekitar dua bulan terakhir, pesanan dari luar negeri itu datang,’’ jelasnya.

Ferdiana harus rapi jali mencatat pesanan yang panjangnya berderet. Dia berupaya tidak menolak permintaan. Mulai bentuk, ukuran, hingga motif. Bantal normal dirampungkannya selama tiga hari. Sedangkan ukuran jumbo butuh waktu lebih lama.

‘’Kalau bahan atau warna sesuai permintaan kebetulan habis, saya minta pemesan sabar,’’ ucapnya.

Ibu dua anak itu sempat tak percaya kerajinan tangannya mampu mendatangkan hasil cukup besar. Omzetnya kini mencapai belasan juta rupiah setiap bulan. Seiring ramainya pesanan, teras rumah sedianya direnovasi agar barang tidak menumpuk di ruang tamu. ‘’Juga ingin beli mesin jahit lagi,’’ harapnya. ****(hw)

Sumber : jawapos.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: