Dituduh Mencuri Listrik, Sutejo Warga Ponorogo Protes

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO - Upaya Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) di Ponorogo dikeluhkan pelanggan. Sutejo, warga Perumahan Patihan Kidul, Siman, merasa diperlakukan tidak adil dan kurang manusiawi.
Sutejo menunjukkan tanda tangan yang diduga dipalsukan pada salinan surat pernyataan yang diterimanya, Selasa (30/5). Latiful Habibi/Radar Ponorogo

Dia sengaja mendatangi kantor PLN Area Ponorogo untuk klarifikasi, Selasa (30/5) kemarin. Meski kesal, Sutejo masih bisa meredam emosinya. Sebendel berkas dibawanya saat mendatangi kantor PLN setempat.

‘’Kami mencurigai ada beberapa kejanggalan,’’ kata Sutejo.

Kejadian yang membuatnya tidak nyaman itu bermula saat empat petugas PLN datang ke rumahnya Senin (29/5) sekitar pukul 12.20 Wib. Mereka datang bersama seorang petugas polisi bersenjata lengkap.

Ketika itu, mereka meminta izin untuk memeriksa meter listriknya. Lantas, petugas PLN itu menunjukkan dua kabel yang berlubang mirip bekas paku yang diindikasikan telah terjadi pencurian listrik.

‘’Karena saya tidak merasa mencuri, saya protes. Tapi malah disuruh datang ke kantor PLN,’’ keluhnya.

Tidak hanya itu, Sutejo juga disodori surat pernyataan terkait temuan kabel cacat di rumahnya itu. Dia menolak menandatangani surat pernyataan itu. Namun, salinan surat pernyatan itu tetap diberikan kepadanya.

Sutejo terkejut setelah melihat salinan surat pernyataan itu terdapat tanda tangan istrinya. Padahal, pada lembaran asli dia menulis pelanggan tidak bersedia tanda tangan.

Tanda tangan inilah yang membuat Sutejo bertambah kesal. Dia juga menunjukkan bukti pemalsuan tanda tangan pada halaman 53 dan 57.

‘’Ini berpotensi kriminal yang bisa kami gugat,’’ ancamnya.

Sutejo juga menolak sejumlah denda yang dibebankan kepadanya. Karena dia yakin tidak pernah melakukan pencurian listrik.

Justru dia sudah mempertimbangkan langkah-langkah yang mungkin bisa dilakukan untuk menyelesaikan kasus ini. Dia tidak ingin kasus serupa menimpa orang lain.

Terutama masyarakat yang tidak berani protes. Dia pun memilih menuruti pemintaan petugas PLN itu.

‘’Karena kasus ini tidak hanya sekali. Tapi sudah banyak yang mengalami,’’ ungkapnya.

Dia mencontohkan kasus sama yang menimpa salah satu pelanggan di wilayah PLN Rayon Balong. Awalnya, pelanggan tersebut diminta membayar sejumlah denda. Agar aliran listrik yang sudah diputus bisa disambung lagi.

Namun, setelah menolak dan bersikeras tidak mengakui, pelanggan tersebut hanya dikenakan uang pengganti kabel sekitar Rp 54 ribu.

‘’Hal seperti itu tidak bisa dibiarkan,’’ tegasnya.

Namun, pihak customer servis PLN tetap menganggap Sutejo bersalah karena terbukti ada temuan kabel berlubang. Lantas, Sutejo berniat mengadu langsung ke manajer PLN Rayon Ponorogo.

Dia diajak mediasi di kantor PLN Area Ponorogo. Sutejo menyerahkan berkas aduan yang berisi kronologis dan keluhannya. Dia berharap pihak PLN mau mengklarifikasi masalah itu.

Manajer PLN Area Ponorogo Muhammad Rizalni menyatakan apa yang dilakukan oleh petugas itu sudah sesuai aturan dalam upaya P2TL. Namun, dia juga menerima keberatan yang disampaikan pelanggan.

Dia juga menganggap itu wajar. Upaya P2TL memang dilakukan, salah satunya tujuannya untuk memeriksa setiap jaringan yang rusak.

‘’Kalau ada yang rusak, misalnya berlubang dikhawatirkan akan membahayakan pelanggan,’’ ungkapnya.

Tentang keluhan adanya petugas polisi bersenjata lengkap, dia menyebut juga sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP). Mengenai senjata itu dia menyebut bukan urusan PLN.

Sebab, pihaknya hanya minta bantuan pihak kepolisian untuk pengamanan. Sementara untuk soal tanda tangan yang diduga dipalsukan, dia masih akan menginvestigasi lagi.

‘’Kalau memang benar, berarti kami salah. Pasti akan kami tegur (petugas P2TL),’’ tegasnya.

Dia juga menjelaskan soal kabel berlubang sudah pasti jadi tanggung jawab pelanggan. Sebab, ada di rumah pelanggan.

Menurut dia, setiap temuan belum tentu pelanggan bersalah. Bisa jadi, ada pihak lain yang sengaja mencuri aliran listrik tanpa sepengetahuan pelanggan.

Karena itu, dari bukti hasil temuan biasanya akan diperiksa lagi. Dengan memanggil pelanggan ke kantor PLN. Jika memang nanti diputuskan bersalah, pelanggan akan dikenai denda sesuai kerugian PLN.

‘’Kalau tidak bersalah, hanya mengganti kabel yang rusak itu,’’ jelasnya. (tif/sat/jprm)

Sumber : jawapos.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: