Kisah Penjual Arum Manis "Ngik-Ngok" Bertahan di Era Modern

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO — Jajanan anak-anak arum manis rambut nenek kini langka di Ponorogo. Diperkirakan penjual jajanan manis di Ponorogo ini tersisa hanya empat orang.
Santoso, 41, warga Jetis, Ponorogo, menjual arum manis rambut nenek, Minggu (21/5/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Salah satunya Santoso, 41, warga Jetis, Ponorogo. Dengan menggendong kotak dari seng berwarna hijau berisi arum manis, Santoso berkeliling puluhan kilometer untuk menawarkan jajanan itu.

Saat berjualan, Santoso juga membawa alat musik seperti biola tapi bentuknya lebih sederhana dan mengeluarkan bunyi “ngik ngok”. Alat musik itu dijadikan sebagai media promosi dan memanggil anak-anak untuk datang membeli jajanan manis itu.

“Dengan alat ini, jadi saya tidak perlu berteriak menawarkan dagangan saya. Cukup dengan memainkan alat musik itu, anak-anak sudah tahu,” kata dia saat ditemui Madiunpos.com di Jl. Suromenggolo, Ponorogo, Minggu (21/5/2017).

Santoso menceritakan sudah 27 tahun berjualan jajanan rambut nenek di wilayah Ponorogo. Pedagang jajanan ini dilakukan secara turun temurun. Sebelum dirinya, ayah serta kakeknya juga berjualan arum manis keliling.

Perjalanan dalam berjualan arum manis ini sangat berliku dan telah melintasi berbagai zaman. Namun, jajanan tradisional ini tetap eksis meski ribuan jajanan modern telah membanjiri pasar.

Pencinta jajanan manis ini tetap anak-anak dari umurnya masih satu digit hingga usianya sudah belasan tahun. Mereka biasanya menunggu penjual rambut nenek ini mampir di sekolah atau kampung.

Bagi Santoso menjadi pedagang jajanan arum manis ini penuh dengan peluh dan keceriaan. Setiap hari, ia harus berjalan 25 km saat ramai dan mencapai 40 km saat kondisi pasar sedang sepi.

Pintar Bergaul

Sedangkan keceriaannya ia dapat dari bertemu anak-anak yang jajan dan melihat mereka bahagia saat mendapat dan menyantap jajanan itu. “Jadi penjual arum manis ini harus ramah dan pintar bergaul. Soalnya pasar kita ini kan anak-anak. Kalau wajah kita garang, tentu anak-anak akan takut dan tidak membeli lagi,” jelas Santoso.

Biasanya dalam sehari ia bisa menghabiskan gula pasir seberat 4 kg. Sedangkan saat ramai bisa menghabiskan gula mencapai 8 kg. Biasanya saat ramai yaitu pas liburan sekolah.

Dalam sehari rata-rata ia mendapat penghasilan senilai Rp200.000 hingga Rp250.000. Namun, untuk hasil keuntungan bersihnya tidak lebih dari Rp60.000 per hari.

Meski tergolong kecil, ia mengaku bersyukur dan lebih memilih berjualan arum manis dibanding bekerja sebagai kuli bangunan. “Saya cinta pekerjaan ini, meski hasilnya tidak banyak, tapi ini kan punya saya sendiri. Saya menjadi bos di pekerjaan ini,” ungkap bapak satu anak ini.

Lebih lanjut, ia menuturkan saat ini penjual arum manis di Ponorogo semakin langka. Dia menduga penjual arum manis yang tersisa hanya sebanyak empat orang dan itu semua adalah warga Jetis. Padahal, tahun 1990-an, penjual jajanan ini mencapai belasan orang dan tersebar di wilayah Ponorogo.

Pola penjualannya yang tradisional dan berjualannya pun harus berjalan kaki membuat orang berfikir berkali-kali untuk terjun di bisnis ini. Namun, ia yakin meski usia jajanan ini sudah tua, arum manis tambut nenek ini tidak akan tergerus zaman dan pelanggannya selalu menunggu setia.

Sumber : solopos.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: