Polisi Panggil Pelajar SMA di Blitar yang Tampilkan Gerakan Er0tis

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Blitar - Polisi mengundang berbagai pihak terkait viralnya video pelajar SMA di Blitar yang menampilkan gerakan p0rn0 aksi di dalam kelas. Selain mengundang berbagai pihak, polisi juga telah meminta keterangan dari para pelajar yang terlibat video itu.

Mereka ada 11 pelajar, terdiri dari sembilan pelajar yang terlihat di tayangan video, satu pelajar yang merekam di HP, dan satu pelajar yang mengunggah di akun media sosial. Selain itu, polisi juga memanggil semua orang tua yang anaknya terlibat dalam video itu. Mereka dimintai keterangan secara tertutup selama kurang lebih enam jam.

"Benar kami telah meminta keterangan mereka. Dari 11 pelajar yang diperiksa, diketahui sembilan di antaranya sebagai pemeran di video, satu pelajar sebagai pengambil gambar, dan satu pelajar menyebarkan ke media sosial," kata Kapolres Blitar AKBP Slamet Waloya di Mapolres, Senin (12/2/2018).

Dalam pemeriksaan itu diketahui mereka merupakan pelajar kelas X jurusan IPS dari SMAN di wilayah selatan Kabupaten Blitar.

"Dari keterangan mereka diperoleh fakta bahwa video tersebut diambil, Selasa (6/2) di dalam ruang kelas saat sedang istirahat," ungkap Slamet.

Dari interview dan analisa video serta konsultasi dengan ahli pidana, lanjut Kapolres, diperoleh kesimpulan bahwa video tersebut tidak mengandung unsur p0rn0grafi.

"Karena tidak mengandung unsur p0rn0grafi, maka kasus tersebut tidak dilanjutkan ke tahap penyidikan," jelasnya.

Namun karena polisi melihat tayangan itu terlihat tidak pantas dan tidak sopan, maka hari ini beberapa pihak diundang ke Polres Blitar untuk melakukan koordinasi penanganan lanjut kasus ini.

Ini Sanksi untuk Pelajar SMA di Blitar 

Hasil koordinasi penanganan kasus beredarnya video p0rn0 aksi pelajar SMA di Blitar diserahkan ke pihak sekolah. Ada beberapa pihak yang dilibatkan, diantaranya kepolisian, Kemenag, dan MUI.

Selain masalah sanksi, pertemuan ini juga merumuskan langkah-langkah lain yang perlu dilakukan untuk menyikapi masalah tersebut.

"Ada dua kesimpulan dalam pertemuan tadi. Pertama, sanksi pada pelajar yang terlibat video itu diserahkan ke pihak sekolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan dinas pendidikan. Kedua, pembinaan pada pelajar di sekolah tersebut akan melibatkan pihak kepolisian, kemenag, dan MUI," jelas Kapolres Blitar AKBP Slamet Waloya usai pertemuan di Polres Blitar, Senin (12/2/2018).

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN tempat pelajar itu bersekolah mengatakan bahwa sanksi akan menyesuaikan dengan tata tertib (tatib) di sekolah.

"Tapi semua menyarankan sanksi nanti yang sifatnya mendidik, utamanya pada pendidikan karakternya. Realisasinya nanti seperti apa, mungkin seperti memghafalkan surat-surat pendek. Ada juga yang menyarankan dimasukkan pondok, kami sesuaikan dengan tatib yang ada," jelas kepala sekolah.

Dalam pertemuan ini, juga dibahas perlunya dievaluasi kembali kebijakan sekolah memperkenankan siswanya membawa HP.

"Saya baru pindah dari SMA lain. Kalau di sekolah saya yang dulu memang pelajar dilarang membawa HP. Nanti di SMA ini kami perlu evaluasi kembali, apakah memang perlu diubah kebijakannya," tandas kepala sekolah.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Kab Kota Blitar, Suhartono menyatakan, kebijakan penggunaan HP akam dikaji kembali.

"Kami perlu kaji kembali larangan penggunaan HP di SMA, karena beberapa mata pelajaran masih membutuhkan HP sebagai sarana penunjang," pungkasnya.
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: