Polisi Temukan Kalender Padepokan Topo Lelono di Rumah Keluarga Suliono

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BANYUWANGI - Mubarok (58), tetangga Suliono, pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina, mengatakan kepada Kompas.com, Minggu (11/2/2018), bahwa di rumah keluarga Suliono ditemukan kalender dari Padepokan Topo Lelono Pangeran Krincing Pesantren Putra-Putri Sirojul Mukhlasin dan Ummahatul Mukminin yang beralamat di Krincing, Secang, Magelang.

"Kebetulan tadi saya yang menemani petugas kepolisian ke rumahnya. Ada kalender yang diakui ayah Suliono tempat anaknya kuliah
Foto kalender yang ditemukan di rumah Suliono, pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina Bedog.(KOMPAS.com/Ira Rachmawati)
dan mondok selama ini. Termasuk beberapa buku milik Suliono, tapi semuanya sudah dibawa polisi. Saya enggak tahu buku apa dan isinya bagaimana," jelas Mubarok.

Menurut pria yang tinggal sekitar 200 meter dari rumah Suliono itu, dia pernah bertemu dengan Suliono di Palu pada tahun 2013. Dia mengakui bahwa penampilan anak ketiga dari pasangan Mistadji (58) dan Edi Susiyah (54) itu berubah karena menggunakan jubah berwarna hitam.

"Saat di Palu, dia bilang jika pemahaman saya tentang Islam itu salah dan bilang akan pulang ke Banyuwangi untuk mengajak saya berdiskusi tentang akidah. Saya sempat kaget saat itu," ujar Mubarok.

Ternyata, Suliono menepati janjinya dan pulang ke Banyuwangi menemui Mubarok yang juga menjadi Ketua Majelis Tak'mir Masjid dan mushala di dua desa, yaitu Desa Kandangan dan Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Kedatangan Suliono pada 24 Maret 2017 tersebut mengajak Mubarok untuk diskusi tentang akidah agama Islam.

"Dia mengatakan jika di agama Islam enggak boleh selamatan, enggak boleh pasang cok bakal untuk selamatan saat panen di sawah. Buat yang perempuan Islam juga wajib pakai cadar. Saya langsung tanya, 'Kamu ikut ajaran apa?', dia hanya bilang, 'Saya ini Islam. Islam ya islam'," ucap Mubarok.

Saat itu Mubarok juga sempat menanyakan organisasi apa yang diikutinya, tetapi Suliono tidak mau menjawab dan terus mengatakan bahwa pemahaman Islam yang dianut Mubarok dan tetangganya salah.

"Dia juga mengajak tetangga-tetangga sini untuk bergabung dengannya. Bahkan orangtuanya sempat tanya ke saya, 'Gus, apa anak saya ini teroris? Katanya tetangga bilang seperti itu'. Saya bilang ke bapaknya, 'Sudah, jangan dihiraukan omongan tetangga'," ujarnya.

Baca juga: Penyerangan di Gereja Santa Lidwina, Romo Pier Luka Serius di Kepala

Sebelumnya diberitakan, seorang pria melakukan penyerangan dengan senjata tajam saat ibadah misa di Gereja Santa Lidwina Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2/2018) pagi.

Akibatnya, tiga orang umat, satu orang romo, dan satu anggota polisi mengalami luka akibat sabetan pedang.

Keanehan Suliono Sebelum Menyerang Gereja

Orangtua Suliono (22), pelaku penyerangan Gereja St Lidwina, Gedog, Sleman, Yogyakarta, tinggal di Dusun Krajan, RT 2/RW 1, Desa Kandangan, Pesanggaran, Banyuwangi, Mistaji, ayah Suliono mengaku mengetahui tindakan anaknya setelah diberitahu oleh warga.

"Saya sudah tahu. Dikasih tahu dari perangkat desa sama tokoh masyarakat di sini," kata Mistaji, ayah Suliono, pada wartawan, Minggu (11/2/2018).
Rumah keluarga Suliono, pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina Bedog, Gamping, Sleman, yang berada di Krajan, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.(KOMPAS.com/Ira Rachmawati)

Mistaji mengatakan, sebelum melakukan penyerangan, Sabtu (10/2/2018), Suliono sempat menelepon keluarga untuk bertanya kabar.

Saat ditelepon anaknya, Mistaji berusaha untuk membujuknya agar pulang ke Banyuwangi.

"Saya sempat minta dia untuk pulang. Tapi dia tidak mau," kata Mistaji.

Mistaji sempat meminta agar Suliono menikah, dan tinggal di Banyuwangi. Namun permintaan itu ditolak.

"Saya sempat suruh dia pulang ke Banyuwangi dan menikah. Tapi dia tidak mau. Malah dijawab ingin menikah dengan bidadari," katanya.

Menurut Mistaji, anaknya itu masih belum bisa pulang karena ingin menyelesaikan Khataman Al Quran di pondok pesantren.

Pria yang bekerja sebagai petani itu tidak menyangka anaknya melakukan penyerangan di gereja. Mistaji mengenal Suliono sebagai anak yang pendiam dan baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan pada anaknya itu.

"Saya Kaget. Sekarang saya bingung. Saya hanya bisa pasrah. Semoga terjadi apa-apa," katanya.

Mistaji memiliki empat orang anak. Namun keempat anaknya itu, saat ini tidak ada yang tinggal bersamanya.

Anak pertama dan kedua, kini tinggal di Papua dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan anak bungsunya kini mondok di Kecamatan Genteng Banyuwangi. Setelah lulus SMP, Suliono sempat tinggal dan sekolah di Sulawesi, ikut kakaknya. Namun setelah itu, Suliono, memilih untuk kuliah dan mondok di Magelang.

Saat ini Mistaji tinggal bersama istrinya, Edi Susiah (54). Dusun Krajan terletak sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Banyuwangi.
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: