Istri Jadi TKW di Hong Kong, Bapak di Malang Tiduri Anak Hingga Melahirkan

Sponsored Ad

Sponsored Ad
MALANG - Agus Hadi Pranoto (53) contoh seorang bapak tidak bertanggung jawab, dengan perilakunya yang bejat. Betapa tidak, karena alasan kebutuhan biologis, anak sendiri ditiduri hingga hamil dan melahirkan.

Tersangka berdalih, istrinya menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong. Sehingga anak keduanya menjadi pelampiasan hasrat seksualnya.

"Tersangka tidak bekerja, sedangkan istrinya kerja sebagai TKW. Karena kelamaan ditinggal kerja, tersangka tidak kuat menahan nafsunya sehingga melampiaskan ke anaknya sendiri," kata Kasatrekrim Polres Malang AKP Adam Purbantoro di Mapolres, Kamis (12/5).

Perbuatan pelaku terbongkar ketika berusaha menolong persalinan korban. Karena tidak sanggup melakukan sendiri, akhirnya meminta bantuan bidan untuk membantu proses kelahiran anak yang sekaligus cucunya itu.

Saat kebingungan, tersangka memanggil bidan setempat datang untuk memberikan pertolongan di rumahnya. Baik ibu bayi dan anaknya pun lahir selamat.

"Awalnya tersangka berusaha menangani sendiri persalinan anaknya dari hasil perbuatannya itu. Tetapi gagal dan meminta bantuan bidan setempat," kata AKP Adam Purbantoro, Kasatrekrim Polres Malang, Kamis (12/5).

Tetapi bersamaan itu juga, warga setempat heboh, terbawa marah dan berniat menghakimi tersangka secara langsung. Pria pengangguran itupun digelandang ke Mapolsek setempat untuk dimintai tanggung jawab atas perbuatannya.

Kata Adam, hasil penyelidikan diketahui kalau tersangka memang sengaja menyembunyikan kehamilan korban. Selama kehamilan yang bersangkutan dilarang keluar rumah. Tindakan tersebut sengaja untuk menutupi perbuatan pelaku.

Agus diketahui sebagai Warga Desa Ngebruk, Desa Sumberpucung, Kabupaten Malang. Tersangka berdalih, perbuatannya dilakukan karena sang istri menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong. Bahkan sekarang menuntut cerai.

Baca juga "Bohongi Istri, Sewa Mobil Untuk Pacaran ke Tretes, Akhirnya Kecebur ke Kali"

Korban masih berusia 17 tahun dan perbuatan bejat itu diakui tersangka telah dilakukan sebanyak tiga kali pada pertengahan 2015. Atas perbuatannya, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Tersangka diancam Pasal 81-82 Junto Pasal 76D-76E Undang-undang nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Pelaku diancam hukuman 5 hingga 15 tahun penjara," katanya.

Baca juga "22 Ribu Tenaga Kerja Indonesia Kabur dari Majikannya di Taiwan"

Adam juga menegaskan, kalau angka kejahatan kekerasan seksual pada anak masih menjadi momok yang mengkhawatirkan. Kejahatan seksual tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak dikenal, tetapi justru dilakukan oleh orang-orang dekat di lingkungan keluarga sendiri.

Sumber : Merdeka.com
Reporter : Darmadi Sasongko
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: