Demam Berdarah Mulai Menyerang Warga Desa Bungkal

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BUNGKAL – Demam berdarah dengue (DBD) kembali menebar ancaman. Kali ini yang menjadi sasaran penularan virus oleh nyamuk aedes aegypti adalah warga di Desa Bancar, Bungkal. Tak tanggung-tanggung, belasan warga setempat terserang demam berdarah dalam waktu sebulan. Kondisi itu memaksa dinkes turun tangan dengan melaksanakan fogging atau pengasapan di titik penyebaran demam berdarah.

Kepala Desa Bancar, Pamuji menuturkan, hingga kemarin (17/7) sudah ada 13 warganya yang terjangkit demam berdarah. Saat ini masih ada enam warganya yang positif demam berdarah dan dirawat di sejumlah rumah sakit di Ponorogo. Rentang usia warga yang terjangkit bervariasi, mulai balita hingga lansia. ‘’Paling banyak yang terjangkit justru yang dewasa,’’ jelasnya.

Menurut Pamuji, penyebaran demam berdarah di desanya dimulai pertengahan bulan Ramadan lalu atau bulan Juni. Seluruh warganya yang terjangkit demam berdarah berada dalam satu blok atau RT yang sama. Pun sebelumnya, Pamuji mengklaim desanya steril demam berdarah. Bahkan di bulan yang sama tahun lalu, tidak ada satupun warganya yang terjangkit demam berdarah. ‘’Sebelumnya tidak pernah ada kasus demam berdarah. Baru kali ini terjangkit dan langsung belasan warga yang terkena,’’ ujarnya.

Pamuji juga menyebut, lingkungan RT yang belasan warganya terkena demam berdarah itu sebenarnya tergolong lingkungan bersih. Setelah ditemukan kasus, warga setempat langsung menggelar kerja bakti membersihkan lingkungan. ‘’Sebab ditakutkan jika tidak segera dibersihkan semakin meluas ke lingkungan sekitarnya. Setidaknya hingga saat ini jumlah pasien tidak lagi bertambah,’’ paparnya.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Ponorogo Dyah Ayu Puspita menyebut pihaknya sudah memantau langsung ke lokasi. Tapi, baru tujuh warga desa setempat yang sudah terindikasi positif DBD. Sedang sisanya masih berstatus tersangka alias suspect. Pihaknya masih menunggu keterangan dari rumah sakit. Ayu menambahkan, dinkes langsung memutuskan dilakukan fogging. Terdapat 20 rumah warga yang ditemukan jentik nyamuk. Pun, belasan warga terindikasi panas demam. ‘’Banyak yang terserang panas. Tapi belum tentu demam berdarah. Bisa gejala klinis penyakit lain,’’ ujarnya.

Dia berharap warga tetap mengedepankan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Sebab, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa yang sudah terbang. Ayu mengaku peran aktif masyarakat dan muspika cukup membantu dalam penanganan DBD. ‘’Kami berharap masyarakat aktif, laporkan kendati gejala klinis sekecil apapun,’’ katanya. (mg4/agi/irw)

Sumber : Radar Madiun
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: