Dinsos Ponorogo Bawa Ida Bocah Hiperaktif ke Surabaya

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BALONG (beritajatim.com) - Masih ingat dengan Ida Wahyuti, anak yang kakinya diikat dengan tali karena orang tuanya bekerja? Warga Desa Tatung Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo akhirnya mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo.

Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) turun gunung bersama petugas sosial dari Kementerian Sosial (Kemensos), Rabu (27/7/2016) siang.

Pantauan beritajatim.com di lapangan, petugas dari Dinsosnakertrans dan Kemensos mendata masalah apa yang terjadi. Keluarga dicerca dengan berbagai pertanyaan termasuk apakah seberapa jauh keluarga mengobatinya.

Hasilnya, memang pihak Pemkab Ponorogo masih zonk. Belum ada terapi apapun yang dilakukan dari dinas terkait.

Salah satu petugas, Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Kemensos, Tajib, mengatakan, Ida memang menderita penyakit ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Yakni gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.

Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. "Biasanya kita menyebutnya Hiperaktif," katanya.

Tajib menuturkan anak yang seperti Ida di Ponorogo memang ada. Dan langkah yang bisa dilakukan harus dengan terapi di rumah sakit.

"Jika Ponorogo dalam arti RSUD Dr Harjono tidak sanggup kita rujuk ke Surabaya di RSUP Dr Sutomo," terangnya.

Terkait biaya, lanjut dia, seharusnya gratis. Karena jika melihat kondisi yang ada sekarang. Ida dan keluarga sudah tercover dengan kartu Indonesia sehat maupun kartu Indonesia pintar.

Tajib mengaku tidak bisa menjamin apakah Ida akan bisa hidup nyaman seperti anak seumurannya. "Ya sama-sama usaha, yang jelas jika dirujuk ke Surabaya, untuk transportasi akan kami tanggung," katanya.

Sementara, Kasie Pemberdayaan Organisasi Sosial, Dinsosnakertrans Pemkab Ponorogo, Suhardiman, menerangkan kali ini hanya assesment saja. Nanti hasilnya jika memang perlu dirujuk ke Surabaya bakal dirujuk.

Namun kedepannya akan dilihat, apakah orang tuanya rela untuk dirujuk. "Kalau rela dan bisa dirujuk, kenapa tidak?," Katanya.

Diberitakan sebelumnya, saat perayaan Hari Anak Nasional,  Ida Wahyuti tidak seperti anak lainnya. Kakinya terpaksa di tali dengan dadung sepanjang 1 meter.

Hal tersebut terpaksa dilakukan oleh kedua orang tuanya, Barokah dan Sri Yani, karena tidak ada pilihan lain. Keduanya harus bekerja menghidupi keluarganya.

Pun pihak Pemkab Ponorogo masih belum terlalu perhatian dengan keadaan Ida. (mit/ted)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: