Ida Bocah yang diIkat Tali Oleh Orangtuanya Hiperaktif, Bukan Gangguan Jiwa

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BALONG – Nasib Ida Wahyuti, bocah perempuan berusia sepuluh tahun yang kakinya diikat tali oleh orang tuanya di rumahnya di Desa Tatung, Balong mulai mendapat perhatian. Kemarin (27/7), Dinsosnakertrans dan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Ponorogo menyambangi Ida dan keluarganya. Petugas menyatakan akan berusaha membebaskan Ida dari pemasungan. Dimungkinkan, cara yang akan dilakukan adalah dengan memberi terapi. Pasalnya, Ida diduga bukan mengidap gangguan jiwa, melainkan hiperaktif.

Kasi Pemberdayaan Organisasi Sosial Dinsosnakertrans Ponorogo, Andi Suhardiman menjelaskan, dia dan tim LK3 datang untuk assessment. Tujuannya, mengorek data rinci karakter Ida dan masalah di keluarga. Sehingga, bisa memberikan bantuan yang tepat sesuai kebutuhan. ‘’Supaya jelas apa kebutuhan Ida, soal kesehatan atau apa,’’ tambahnya.

Menurut Andi, dari sejumlah kasus pemasungan yang pernah ditanganinya, yang menimpa Ida berbeda. Dari penilaian kemarin, masalah yang menimpa Ida bukan psikotik atau gangguan jiwa seperti yang dialami banyak korban pasung di Ponorogo. Dari penggalian data dengan kedua orang tua Ida, Barokah dan Sriani, anak tersebut dipasung karena orang tuanya takut. Yakni, khawatir Ida kerap membahayakan nyawanya sendiri. Seperti bermain di sumur, lari ke jalan ramai hingga bersembunyi di gorong-gorong. ‘’Korban pasung kebanyakan diberi pengobatan supaya berangsur normal. Sementara penanganan Ida tampaknya akan lain,’’ paparnya.

Selain itu, kedua orang tua Ida menjelaskan, saat kecil anaknya sempat mengidap polio. Namun saat usia lima tahun, Ida mulai bisa berjalan. Dan lambat laun perkembangan motorik Ida cenderung melebihi anak normal lainnya. Dia menjadi hiperaktif. Kendati demikian, menurut Andi, kedua orang tuanya masih enggan melepas Ida jauh dari rumah. Padahal, cara menangani anak hiperaktif seperti Ida hanya dengan terapi. ‘’Kami akan terus melakukan pendekatan kepada kedua orang tua Ida. Keluarga tidak mampu seperti Ida mendapat jaminan kesehatan. Termasuk dalam hal ini terapi untuk Ida,’’ ungkapnya.

Baca juga  : Dinsos Ponorogo Bawa Ida Bocah Hiperaktif ke Surabaya

Sementara, Ketua LK3 Ponorogo Tajib juga membenarkan bahwa Ida mengidap hiperaktif. Meski, kepastian tersebut tetap harus diuji secara medis. Hanya, Tajib menyebut terapi untuk anak hiperaktif di daerah-daerah belum ada yang gratis. Oleh karena itu, satu-satunya jalan adalah dengan membawa Ida ke Surabaya untuk terapi di RSU dr. Soetomo. Selain Surabaya, pilihan lain adalah Malang. Dia optimistis biaya pengobatan gratis. ‘’Kami akan pastikan Ida mendapat jaminan terapi dan pembiayaan gratis. Harapannya, tentu supaya anak tersebut bisa tumbuh dan berkembang dengan normal,’’ ungkapnya.(mg4/irw)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: