Melihat Lebih Dekat Goa Maria Fatima di Klepu, Sooko

Sponsored Ad

Sponsored Ad
SOOKO – Indah dan damai. Dua kata tersebut tepat menggambarkan destinasi wisata religi gua Maria Fatima di Klepu, Sooko. Tempatnya yang berada di atas bukit dan rindangnya pepohonan besar semakin membuat lokasi peribadatan umat Katolik itu begitu menenangkan. Tidak hanya itu, patung Bunda Maria di atas bukit batu juga menambah kesakralan tempat tersebut. Tak banyak pengunjung ketika hari biasa. Kecuali, Minggu pertama setiap bulannya.

Mengunjungi gua Maria Fatima Klepu dari pusat kota Ponorogo membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Memasuki Desa Klepu, banyak penunjuk arah yang membantu menemukan lokasi. Pasalnya, letak gua cukup pelosok. Jalan menuju gua juga tidak seberapa lebar. Pun, beberapa titik jalan menuju gua Maria Fatima rusak.

Penjaga gua Maria Fatima, Stevanus Bonari menuturkan,goa Maria Fatima merupakan tempat peribadatan umat Katolik yang dikelola Paroki Santo Hilarius Klepu. Menurut Stevanus, sebenarnya gua Maria Fatima tidak benar-benar memiliki sebuah gua alami, melainkan buatan. Cerita pembangunan gua tersebut dimulai pada 1984. Kala itu, ditemukan sebuah sendang atau mata air di lokasi gua Maria Fatima saat ini berada. Suatu ketika, seorang anak kecil sempat terjatuh dan tenggelam. Masyarakat pun takut dan mengira anak tersebut meninggal karena kedalaman sendang mencapai lebih dari dua meter. ‘’Selain itu, juga ada anggapan sendang tersebut angker, semakin membuat takut masyarakat,’’ ujarnya.

Namun sebaliknya, saat akhirnya warga berhasil menemukan anak tersebut dengan selamat, dia justru memberikan kesaksian. Menurut anak itu, dia bermimpi didatangi seorang perempuan berpakaian putih, mirip sosok Bunda Maria. Masyarakat setempat yang mayoritas Katolik pun menggelar doa bersama di tempat tersebut untuk mengucap syukur lantaran anak kecil itu ditemukan dalam kondisi selamat. ‘’Saat itu, ternyata warga merasa nyaman berdoa disana. Maka tercetuslah ide dibuatkan patung Bunda Maria yang dipercaya telah menyelamatkan anak kecil tersebut,’’ jelasnya.

Kini, ratusan pengunjung memadati gua Maria Fatima setiap Minggu pertama tiap bulan. Peziarah banyak berdatangan justru dari luar daerah seperti Tangerang, Jogjakarta, Solo, Jakarta, sampai Malang. Sementara peziarah dari bumi reyog justru lebih sedikit. Menurut Stevanus, puncak kunjungan gua Maria Fatima terjadi di tahun 2004. ‘’Kalau ramai, benar-benar bisa mengangkat ekonomi masyarakat yang mayoritas petani. Ya untuk penghasilan tambahan,’’ terangnya.

Sayangnya, kini jumlah pengunjung gua Maria Fatima tidak seramai dulu. Menurut Stevanus, susahnya akses menuju gua menjadi kendala. Tidak hanya jalan yang sempit, juga banyak kerusakan akses. Bahkan hingga sekarang, bus besar untuk mengangkut peziarah tidak bisa masuk hingga parkiran gua. ‘’Banyak pengunjung dari luar daerah juga merasa fasilitas jalannya kurang baik. Padahal, potensi wisata religi ini cukup menjanjikan,’’ ujarnya.(mg4/irw)

Sumber : Radar Madiun
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: