Rumah Potong Hewan di Jalan Sumatera Mangkrak

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KOTA – Nasib rumah potong hewan (RPH) milik Pemkab Ponorogo di Jalan Sumatera memprihatinkan. Tidak pernah digunakan. Mangkrak beberapa tahun belakangan. Anggaran yang sudah digelontorkan untuk pembangunan RPH tersebut pun muspro. Sebab, pemkab tidak akan lagi menggunakan RPH itu. Dan, akan membangun RPH baru di lokasi lain di Jetis. Sedang, RPH lama belum jelas peruntukannya. ‘’RPH di Jalan Sumatera akan menjadi aset daerah. Itu tergantung bagian aset akan digunakan menjadi apa,’’ kata Kepala Dinas Pertanian Ponorogo, Harmanto.

Apalagi, RPH baru di Jetis sudah mulai dikerjakan kendati sempat berhenti saat Lebaran lalu. Harapannya tahun ini selesai sehingga awal tahun sudah dapat dioperasionalkan. Harmanto menyebut pihaknya ogah menempati RPH lama lantaran berbagai alasan. RPH sudah tidak representatif sehingga aktivitas tidak maksimal. Padahal, RPH butuh lahan luas. Pasalnya, hewan yang dipotong juga beragam. Mulai unggas hingga seperti sapi dan kerbau. Tentu butuh kendaraan besar pula. Sedangkan RPH di Jalan Sumatera tidak memenuhi persyaratan itu. ‘’RPH di Jalan Sumatera juga sudah terlalu padat permukiman. Jadi khawatirnya menimbulkan masalah sosial, seperti bau dan mengundang hewan yang mengganggu kayak lalat,’’ paparnya.

Sebaliknya, RPH di Jetis dibangun sesuai kriteria. Kapasitas RPH berkisar 25-50 aktivitas pemotongan saban hari. Selain didukung luasan tempat, alat yang digunakan cukup komplet. Mulai mesin pemotong hingga lemari pendingin. Harmanto menyebut pemerintah pusat menggelontorkan Rp 2 miliar untuk pembangunan RPH. Sedang, jika ditotal dengan peralatan, mencapai Rp 4 miliar lebih. Besaran dana bersumber Dana Alokasi Khusus (DAK) tersebut secara bertahap. Pengadaan peralatan dilakukan terlebih dahulu, tahun lalu. ‘’Di sana juga dekat dengan pasar hewan. Jadi lebih representatif dan strategis secara lokasi,’’ imbuhnya.

Harmanto berharap tidak ada lagi praktik penyembelihan di rumah-rumah. Sebab, tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitas dagingnya. Di antaranya, berpenyakit. Sebaliknya, RPH tidak sembarangan melakukan pemotongan. Hewan diperiksa terlebih dahulu. Harmanto menyebut bakal memberikan sanksi bagi yang masih melakukan penyembelihan di luar RPH. Apalagi, mereka yang tertangkap berbuat curang. ‘’Akan kami lakukan pengawasan. Percuma sudah dibangunkan mahal kalau tidak dimanfaatkan,’’ katanya. (agi/irw)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: