Kematian Dianggap Tak Wajar, Makam Mulyono Warga Ponorogo Dibongkar

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Ponorogo - Mulyono, warga Desa Bedi Wetan, Kecamatan Bungkal, Ponorogo yang meninggal pada Sabtu (3/2/2018), kini makamnya dibongkar. Keluarga Mulyono tidak terima anggota keluarganya meninggal setelah diikat warga.
Proses saat makam dibongkar (Foto: Charoline Pebrianti)

"Memang ada informasi dari masyarakat, salah satu warga yang diketahui bernama Mulyono melakukan pengrusakan di rumah bapak Marlohi," ujar Kapolsek Bungkal AKP Joko Suseno kepada detikcom saat ditemui di makam umum Bedi wetan, Jumat (9/2/2018).

Joko menerangkan, kronologi kejadian ini bermula saat Mulyono yang diketahui menderita kelainan jiwa ini memang jatuh cinta terhadap anak Marlohi, yakni Ika Cahyanti. Korban sudah kali kedua ini mendatangi rumah wanita pujaannya tersebut dan melakukan pengrusakan.

"Lalu warga sekitar pun mengamankan korban dengan cara diikat, karena badannya besar dan mengamuk jadi diamankan," terangnya.

Setelah dipegang dan diikat bagian tangan dan kaki, kemudian tiba-tiba korban diam. Setelah dicek, korban tidak bernyawa. "Warga lalu melaporkan ke perangkat desa diteruskan ke Polsek Bungkal," jelas Joko.

Menurut informasi, dilihat secara fisik, korban tidak ada tanda-tanda mengalami penganiayaan. Hanya ada sedikit goresan pada pipi bagian kanan atas. Namun pihak keluarga merasa keberatan dan akhirnya melapor ke Polres Ponorogo untuk mengusut tuntas kasus ini.

Menanggapi hal tersebut, dilakukanlah pembongkaran kuburan korban untuk mendapatkan hasil visum. Proses pembongkaran pun jadi tontonan warga. Sementara itu, Kapolres Ponorogo AKBP Suryo Sudarmadi menambahkan, usai kejadian sebenarnya Kapolsek Bungkal bersama anggota bersikeras untuk melaksanakan visum di RSUD Ponorogo tapi dikarenakan waktu yang sempit untuk melaksanakan pemakaman sehingga setelah visum selesai sambil menunggu hasil maka pemakaman dilakukan.

"Namun dikemudian hari beberapa keluarga korban tidak rela, karena ada beberapa informasi yang mengatakan ada tindak kekerasan pada saat korban meninggal," imbuhnya.

Sehingga untuk memastikan penyebab dari korban yang meninggal maka dilakukan autopsi karena hasil visum tidak ada tanda-tanda kekerasan dan disarankan untuk mengecek organ dalam. Dimungkinkan karena serangan jantung tapi lebih jelas harus melalui autopsi.

"Makanya kami berkoordinasi dengan RS Bhayangkara Polri di Kediri, satu tim sebanyak enam orang. Kami juga melakukan pengamanan agar masyarakat tidak masuk mengganggu proses autopsi tersebut, hasilnya nanti menjadi bahan untuk proses lebih lanjut apabila ada tanda-tanda kekerasan maka akan diproses lebih jelas," pungkasnya.

Sumber : Detik.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: